Ukuran teks
18

Toko Kecil dengan Masalah Besar

Stephanie memiliki toko kelontong di sudut jalan. Toko kecil yang diwarisi dari orang tuanya. Setiap hari ia datang pukul 6 pagi dan pulang pukul 10 malam. Kerja keras. Dedikasi tinggi. Tapi profit semakin menipis. 

Masalahnya jelas: supermarket besar di ujung jalan buka 24/7 dengan harga lebih murah. Bagaimana mungkin toko kecilnya bisa bersaing? 

Kebanyakan orang dalam situasi Stephanie akan melakukan salah satu dari tiga hal: menyerah dan tutup, atau meniru supermarket (yang mustahil), atau membuat daftar panjang "goal" yang ambisius seperti "meningkatkan penjualan 50%" atau "menjadi toko paling disukai di lingkungan." 

Tapi semua itu bukan strategi. Itu hanya keinginan. 

Stephanie mengambil pendekatan berbeda. Ia bertemu dengan Richard Rumelt—profesor strategi di UCLA—yang membantunya melihat situasi dengan cara baru. 

Pertama, diagnosis: masalah sebenarnya bukan hanya harga atau jam buka. Masalahnya adalah Stephanie mencoba melayani semua orang dengan cara yang sama seperti supermarket. Ia kehilangan identitas. 

Kedua, guiding policy: alih-alih bersaing dengan supermarket di harga dan ketersediaan, fokus pada segmen pelanggan yang supermarket tidak layani dengan baik—profesional sibuk yang tidak punya waktu memasak. 

Ketiga, coherent actions: Stephanie menambah kasir kedua untuk menangani lonjakan jam 5 sore. Ia mengalokasikan rak untuk makanan siap saji berkualitas tinggi. Ia berhenti bersaing di produk yang supermarket unggul. 

Hasilnya? Dalam enam bulan, profit naik 40%. 

Inilah perbedaan antara strategi yang baik dan strategi yang buruk. Dan inilah yang akan kita pelajari dalam buku ini.

 

1 dari 12