Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Mengubah 85 Tahun

Tahun 1938. Dunia di ambang Perang Dunia II. Universitas Harvard memulai sebuah eksperimen ambisius yang belum pernah ada sebelumnya. 

Mereka merekrut 724 remaja laki-laki—268 dari Harvard (mahasiswa cemerlang dari keluarga mampu) dan 456 dari lingkungan miskin Boston—dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: 

"Apa yang membuat hidup menjadi baik?" 

Lalu mereka melakukan sesuatu yang luar biasa: mereka tidak hanya bertanya sekali. Mereka mengikuti orang-orang ini sepanjang hidup mereka. 

Setiap dua tahun, peneliti mewawancarai mereka. Memeriksa kesehatan mereka. Berbicara dengan keluarga mereka. Mengikuti karir mereka. Mencatat pernikahan, perceraian, kelahiran anak, kematian orang tua, kesuksesan, kegagalan, kegembiraan, dan penderitaan. 

85 tahun kemudian, studi ini masih berjalan—menjadi studi terpanjang tentang kehidupan manusia yang pernah dilakukan. 

Beberapa partisipan menjadi dokter. Pengacara. Pekerja pabrik. Salah satu menjadi presiden Amerika Serikat (John F. Kennedy). Beberapa menjadi alkoholik. Beberapa menikah bahagia selama 60 tahun. Beberapa bercerai berkali-kali. Beberapa hidup hingga 100 tahun. Beberapa meninggal muda. 

Dan dari semua data—wawancara, scan otak, tes darah, rekaman video—satu temuan menonjol lebih jelas dari yang lain: 

Bukan uang. Bukan kesuksesan. Bukan ketenaran. 

Yang membuat hidup baik adalah hubungan.

Hubungan yang berkualitas dengan orang lain—keluarga, teman, komunitas—adalah prediktor terkuat untuk kebahagiaan dan kesehatan sepanjang hidup. 

Robert Waldinger, direktur keempat dari studi ini, bersama Marc Schulz, menulis "The Good Life" untuk menjawab pertanyaan: Dalam dunia yang semakin terisolasi, sibuk, dan digital—bagaimana kita membangun hubungan yang membuat hidup benar-benar baik? 

Mari kita lihat apa yang 85 tahun data memberitahu kita.

 


1 dari 10