48 Jam yang Menguapkan $26 Miliar
8 November 2022. Sam Bankman-Fried duduk di apartemen penthouse-nya di Bahamas, dikelilingi oleh tumpukan bantal bean bag dan monitor komputer.
48 jam yang lalu, dia adalah salah satu orang terkaya di dunia. Kekayaan bersih: $26 miliar. Perusahaannya, FTX, dinilai $32 miliar—lebih besar dari banyak bank tradisional. Majalah Forbes menyebutnya "the next Warren Buffett." Politisi, selebriti, dan atlet papan atas berbondong-bondong bekerja sama dengannya.
Sekarang? Semuanya hilang.
FTX bangkrut. $8 miliar dana pelanggan menguap—atau lebih tepatnya, dipinjam secara ilegal untuk menutupi kerugian perusahaan trading-nya yang lain. Jutaan orang kehilangan tabungan mereka. Kekayaan pribadinya lenyap dalam semalam. Dan dalam beberapa minggu, dia akan ditangkap dan menghadapi tuduhan penipuan terbesar dalam sejarah cryptocurrency.
Bagaimana seorang jenius MIT, yang mengaku hanya peduli pada altruisme dan menyelamatkan dunia, bisa membangun dan menghancurkan kerajaan kripto bernilai miliaran dolar—semuanya sebelum dia berusia 31 tahun?
Michael Lewis, penulis legendaris "The Big Short" dan "Moneyball," menghabiskan enam bulan bersama Sam Bankman-Fried (atau SBF, seperti dia lebih dikenal) sebelum kehancuran. Dia mendapat akses yang belum pernah terjadi sebelumnya: tidur di kantor FTX, mengikuti meeting, bahkan tinggal di penthouse bersama SBF dan teman-temannya yang tinggal komunal.
"Going Infinite" adalah kisah yang luar biasa—tentang ambisi tanpa batas, filosofi yang aneh, keputusan berisiko yang tidak masuk akal, dan pertanyaan yang menggelisahkan: Apakah Sam Bankman-Fried adalah penjahat jenius atau sekadar anak jenius yang kehilangan kendali?
Lewis tidak memberikan jawaban mudah. Tapi dia memberikan sesuatu yang lebih berharga: potret mendalam tentang bagaimana seorang individu bisa melangkah terlalu jauh—dan mengajak seluruh dunia bersamanya.
Mari kita mulai dari awal.