Ukuran teks
18

Kota dengan Dua Wajah

Bayangkan Anda berdiri di tengah Manhattan, Januari 1986. 

Di sebelah kiri Anda: gedung pencakar langit Wall Street yang berkilauan. Bonus jutaan dollar mengalir seperti air. Champagne dipecahkan di lantai perdagangan. Limousine hitam memadati jalanan. Restoran mewah tidak bisa menampung semua bankir muda yang ingin merayakan kekayaan baru mereka. 

New York sedang BOOM. 

Di sebelah kanan Anda, hanya beberapa blok: ribuan orang tidur di jalanan. Tunawisma di setiap sudut subway. Crack cocaine meluluhlantakkan lingkungan miskin. AIDS membunuh ribuan pria gay—dan pemerintah hampir tidak peduli. Ketegangan rasial yang siap meledak kapan saja. 

New York sedang RUNTUH. 

Dua kota dalam satu. Kekayaan yang tidak terbayangkan berdampingan dengan kemiskinan yang brutal. Dan di tengah-tengah kontradiksi yang menghancurkan ini, sekelompok pria dengan ego raksasa bertarung untuk mengontrol jiwa kota—dan dalam prosesnya, mengubah tidak hanya New York, tetapi Amerika. 

Ed Koch—walikota yang pernah dicintai, sekarang dikelilingi skandal. 

Donald Trump—pengembang real estate yang haus publisitas dan kekuasaan.

Al Sharpton—pendeta yang naik dari kontroversi demi kontroversi. 

Rudy Giuliani—jaksa yang memburu Wall Street dan membangun reputasi politik.

Spike Lee—filmmaker yang mencoba menangkap kemarahan komunitas kulit hitam. 

Jonathan Mahler menyebut mereka "The Gods of New York"—para dewa kota New York.

Bukan karena mereka baik atau bijaksana. Tapi karena mereka punya kekuatan untuk membentuk kenyataan jutaan orang—dan ego untuk percaya bahwa mereka ditakdirkan melakukannya. 

Dari tahun 1986 hingga 1990, empat tahun yang brutal dan transformatif, para "dewa" ini bertarung. Dan dalam pertempuran mereka, sebuah kota—dan bangsa—berubah selamanya. 

Mari kita masuki periode paling gila dalam sejarah modern New York.

 


1 dari 11