Jendela Kereta dan Kehidupan yang Kita Ciptakan
Setiap pagi, kereta yang sama. Jalur yang sama. Pemandangan yang sama.
Rachel Watson duduk di gerbong kereta komuter, botol gin kecil tersembunyi di tasnya, menatap keluar jendela saat kereta melaju dari Ashbury ke London. Setiap hari, kereta berhenti di sinyal yang sama—tepat di belakang rumah-rumah di Blenheim Road.
Dan setiap hari, Rachel mengamati pasangan di salah satu rumah itu.
Rumah nomor 15.
Pasangan sempurna. Dia memanggilnya Jess dan Jason—meskipun itu bukan nama asli mereka. Dia cantik, berambut pirang, sering duduk di teras dengan kopi di pagi hari. Dia tampan, sering menciumnya sebelum berangkat kerja. Mereka tertawa. Mereka bahagia. Mereka adalah segalanya yang Rachel inginkan dan tidak pernah punya.
"Mereka sempurna," pikir Rachel. "Mereka adalah aku dan Tom dahulu. Sebelum semuanya hancur."
Tapi suatu pagi, Rachel melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Jess—wanita sempurna itu—sedang mencium pria lain di teras. Bukan Jason. Orang asing.
Rachel merasa dikhianati. Marah. Seolah-olah dia yang diselingkuhi, bukan Jason. "Bagaimana dia bisa melakukan ini?" Rachel bergumam, tangannya gemetar membuka botol gin.
Dua hari kemudian, wanita itu menghilang.
Dan Rachel menyadari dia mungkin tahu sesuatu. Sesuatu penting. Sesuatu yang bisa memecahkan misteri—atau menghancurkan hidupnya yang sudah hancur lebih dalam lagi.
Tapi masalahnya: Rachel tidak ingat apa yang terjadi malam itu. Dia mabuk. Blackout. Dan ketika dia bangun, ada darah di tangannya.
Selamat datang di dunia "The Girl on the Train"—di mana tidak ada yang seperti yang terlihat, tidak ada yang bisa dipercaya, dan kebenaran terkubur di bawah lapisan kebohongan, alkohol, dan ingatan yang rusak.