Headline yang Menghancurkan Jiwa
Bayangkan Anda berusia 16 tahun di tahun 2005.
Anda membuka majalah. Di sampul: foto selebriti perempuan dengan lingkaran merah di bagian tubuh yang "tidak sempurna." "Selulit!" teriak headline. "Kenaikan berat badan!" "Kegagalan diet!"
Anda menyalakan TV. Reality show menampilkan perempuan berteriak satu sama lain, saling mengkhianati, bersaing untuk mendapat perhatian pria. Voice-over membuat mereka terdengar bodoh. Edit membuat mereka terlihat gila.
Anda browsing internet. Blog gosip dengan headline kejam: "Kegemukan dan Putus Asa," "Hot or Not," "Walk of Shame." Komentar penuh dengan kebencian terhadap perempuan yang bahkan tidak mereka kenal.
Anda mendengar lagu di radio. Liriknya tentang perempuan sebagai objek. Video musiknya menampilkan tubuh perempuan terpotong-potong—hanya payudara, pantat, kaki—tidak pernah wajah utuh, tidak pernah manusia utuh.
Dan semua ini dijual sebagai pemberdayaan.
"Be sexy!" kata budaya. "Tapi jangan terlalu sexy, atau kamu pelacur." "Be confident!" kata budaya. "Tapi jangan terlalu percaya diri, atau kamu arogan." "Be thin!" kata budaya. "Tapi jangan terlihat seperti kamu berusaha, atau kamu narsis."
Perempuan tidak bisa menang. Dan itu bukan kebetulan—itu desain.
Sophie Gilbert, kritikus budaya pemenang National Magazine Award dan finalis Pulitzer Prize, menghabiskan bertahun-tahun menganalisis apa yang terjadi pada feminisme di awal abad ke-21.
Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: "Apa yang terjadi pada feminisme pada abad ke-21? Mengapa generasi yang seharusnya paling diberdayakan justru paling brutal terhadap diri mereka sendiri?"
"Girl on Girl" adalah jawabannya—dan itu mengerikan.
Tapi ada kabar baik: Memahami bagaimana kita sampai di sini adalah langkah pertama untuk keluar.
Mari kita mulai perjalanan yang menyakitkan tapi perlu ini.