Ukuran teks
18

Komputer yang Tidak Bisa Membaca Hatimu

Cambridge, Massachusetts. Musim dingin 2001. 

Rana el Kaliouby duduk di apartemen kecilnya yang dingin, jauh 5.000 mil dari rumahnya di Kairo. Dia baru saja diterima di program doktoral MIT—impian setiap ilmuwan komputer. 

Tapi malam itu, dia tidak merasa seperti merayakan. 

Dia membuka laptop. Video call dengan suami dan putri kecilnya di Kairo. Wajah putrinya muncul di layar—mata berkaca-kaca, bibir bergetar. Dia baru berusia dua tahun, tidak mengerti mengapa Mama pergi. 

Rana mencoba tersenyum. Mencoba terlihat kuat. "Mama akan pulang sebentar lagi, sayang." Tapi di dalam, hatinya hancur. 

Setelah panggilan berakhir, Rana menatap layar laptop yang gelap. Dan kemudian sebuah pertanyaan aneh muncul di benaknya: 

"Kenapa komputer ini tidak bisa tahu bahwa aku sedang patah hati?" 

Komputer ini bisa melakukan jutaan kalkulasi per detik. Bisa mengakses seluruh internet. Bisa menjalankan simulasi kompleks yang bahkan manusia tidak bisa bayangkan. 

Tapi komputer ini tidak tahu bahwa penggunanya sedang menangis. 

Komputer ini tidak peduli. Tidak bisa peduli. 

Dan di situlah benih dari revolusi dimulai. 

Rana el Kaliouby akan menghabiskan dua dekade berikutnya mengajarkan mesin untuk memahami sesuatu yang selama ini dianggap eksklusif milik manusia: emosi.

Dia akan mendirikan perusahaan bernama Affectiva yang teknologinya kini digunakan oleh perusahaan Fortune 500, peneliti autism, dan bahkan mobil yang bisa merasakan kalau pengemudinya mengantuk atau stress. 

Tapi lebih dari itu, dia akan membuktikan bahwa wanita Muslim dari Timur Tengah bisa memimpin revolusi teknologi—meskipun dunia tech terus berkata sebaliknya. 

Ini adalah kisahnya.

 


1 dari 10