Ukuran teks
18

Keruntuhan Spiritual di Lantai Kamar Mandi

Tahun 2006. Dr. Brené Brown—peneliti, profesor, ibu dari dua anak—mengalami apa yang ia sebut sebagai "keruntuhan spiritual" di lantai kamar mandinya. 

Selama lebih dari satu dekade, ia telah meneliti rasa malu, ketakutan, dan kerentanan. Ia mewawancarai ribuan orang, menganalisis data, mencari pola. Pekerjaannya solid. Karir akademisnya cemerlang. Dari luar, semuanya terlihat sempurna. 

Tapi di dalam, ada yang retak. 

Penelitiannya menunjukkan sesuatu yang mengganggu: orang-orang yang hidup dengan penuh dan autentik memiliki satu kesamaan—mereka merangkul kerentanan. Mereka tidak mencoba menjadi sempurna. Mereka tidak menyembunyikan ketidaksempurnaan mereka. Justru, mereka menerima ketidaksempurnaan itu sebagai bagian dari kemanusiaan mereka. 

Dan itu membuat mereka lebih bahagia. Lebih terhubung. Lebih hidup. 

Masalahnya: Brené sendiri tidak hidup seperti itu. 

Ia adalah seorang perfeksionis. Ia mengontrol segala sesuatu. Ia bekerja terlalu keras untuk membuktikan bahwa ia "cukup baik." Ia sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Ia menghindari kerentanan seperti menghindari wabah. 

Di lantai kamar mandi itu, dengan air mata mengalir, Brené menghadapi kebenaran yang menyakitkan: Ia telah menghabiskan bertahun-tahun meneliti bagaimana hidup dengan sepenuh hati, tetapi tidak benar-benar hidup seperti itu. 

Data mengatakan satu hal. Hidupnya mengatakan hal lain. 

Ia harus memilih: terus hidup dengan cara lama yang "aman" tetapi tidak memuaskan, atau mengambil risiko besar untuk hidup sesuai dengan apa yang penelitiannya tunjukkan—hidup dengan kerentanan, keberanian, dan keaslian. 

Pilihan itu menakutkan. Tapi Brené tahu: tidak ada jalan lain.

Keruntuhan spiritual itu menjadi titik balik. Dari kehancuran itulah lahir konsep yang akan mengubah hidup jutaan orang: Wholehearted Living—hidup dengan sepenuh hati. 

Dan dari perjalanan transformasi itu, lahirlah buku ini: The Gifts of Imperfection.

 


1 dari 8