Orang Terpintar yang Pernah Hidup
1965. Richard Feynman menerima telepon dari Stockholm. Dia memenangkan Hadiah Nobel untuk Fisika.
Kebanyakan orang akan melompat kegirangan. Ini adalah puncak karir akademis. Pengakuan tertinggi dalam sains.
Tapi Feynman? Dia tidak senang.
"Saya sudah dapat hadiah," katanya pada istrinya. "Hadiah saya adalah kesenangan menemukan sesuatu, sensasi ketika kamu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Itu sudah cukup. Nobel hanya akan membuat saya jadi public figure."
Ini adalah Richard Feynman—mungkin fisikawan paling cemerlang abad ke-20, dan pasti yang paling aneh.
Dia adalah orang yang:
● Membantu membuat bom atom di Los Alamos sambil membongkar brankas untuk iseng
● Memenangkan Nobel tapi menolak kehormatan dan gelar akademis lainnya
● Mengajar fisika dengan cara yang membuat mahasiswa menangis karena terlalu indah
● Bermain bongo di klub strip, melukis telanjang, dan membuka kunci lemari rahasia FBI
● Mengungkap penyebab ledakan pesawat Challenger dengan eksperimen segelas air es di televisi nasional
● Mengatakan "Saya tidak peduli apa kata orang—saya ingin tahu bagaimana alam bekerja"
Tapi yang paling menakjubkan dari Feynman bukan IQ-nya (meskipun 125 dianggap "hanya" tinggi, bukan jenius). Bukan juga kontribusi ilmiahnya (meskipun diagram Feynman mengubah cara kita memahami partikel subatomik).
Yang paling menakjubkan adalah cara dia berpikir—filosofi tentang curiosity, pembelajaran, dan kehidupan yang bisa kita pelajari dan terapkan, bahkan tanpa PhD dalam fisika.
"Genius" karya James Gleick bukan hanya biografi. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana berpikir seperti seorang jenius—dan mengapa itu lebih tentang attitude daripada IQ.
Mari kita mulai.