Dua Surat dari Kalkutta
Tahun 2012. Siddhartha Mukherjee, seorang dokter onkologi dan peneliti di Columbia University, menerima dua surat dari sepupunya di Kalkutta, India.
Surat pertama tentang Rajesh.
Rajesh adalah sepupu Mukherjee. Usia 40-an. Dulu anak yang ceria dan cerdas. Sekarang dia tinggal di ruang kecil di lantai atas rumah orang tuanya yang sudah tua. Dia tidak keluar rumah. Tidak berbicara dengan siapa pun. Kadang dia mendengar suara-suara yang tidak ada. Kadang dia percaya orang-orang sedang mengejarnya.
Skizofrenia.
Surat kedua tentang Moni.
Moni adalah sepupu lain. Usia 30-an. Dia juga dulunya normal—bahkan brilian. Lulusan universitas terbaik di India. Lalu tiba-tiba, di usia 20-an, sesuatu patah dalam pikirannya. Delusi. Paranoia. Dia juga didiagnosis skizofrenia.
Dan kemudian Mukherjee ingat Jagu—pamannya yang meninggal bertahun-tahun lalu. Jagu juga skizofrenia. Dia menghabiskan puluhan tahun hidupnya berkeliaran di jalanan Kalkutta, berbicara dengan orang-orang yang tidak terlihat, menjalani hidup dalam realitas alternatif yang hanya dia yang tahu.
Tiga generasi. Tiga orang. Penyakit yang sama.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah gen.
Dan di situlah pertanyaan menghantui Mukherjee:
"Apakah aku membawa gen yang sama? Apakah anak-anakku akan mewarisinya? Dan jika kita bisa menemukan gen ini, haruskah kita menghapusnya?"
Pertanyaan-pertanyaan ini—personal, menakutkan, dan mendesak—membawa Mukherjee pada perjalanan untuk memahami gen: unit informasi yang membuat kita menjadi diri kita, yang menghubungkan kita dengan leluhur kita, dan yang mungkin menentukan masa depan spesies manusia.
"The Gene" adalah kisah paling personal dan paling universal yang pernah ditulis tentang biologi. Karena gen bukan hanya tentang sains—gen adalah tentang identitas, keluarga, takdir, dan apa artinya menjadi manusia.