Ukuran teks
18

Ketika Dunia Terlalu Bising, Lihatlah ke Atas

Bayangkan malam yang sangat sunyi. 

Anda berdiri sendirian di hutan, di bawah langit yang gelap. Tidak ada suara kecuali angin yang berbisik di antara pepohonan. Tidak ada cahaya kecuali bulan yang bersinar lembut dari atas. 

Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Anda merasa... tenang. 

Bukan karena masalah Anda hilang. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi mudah. Tapi karena di kesunyian itu, Anda menyadari: Anda tidak sendirian. 

Bulan ada di sana. Selalu ada. Setiap malam. Bahkan ketika awan menutupinya, bulan tetap di sana—menunggu dengan sabar untuk dilihat kembali. 

Inilah esensi dari "Fox Under The Moon"—buku yang lahir dari kamar kecil di karavan, di tengah lockdown, ketika dunia merasa begitu tidak pasti dan menakutkan. 

Stacey McNeill, seorang seniman dan guru dari Inggris, mulai menggambar seekor rubah kecil yang gelisah berbicara dengan bulan yang bijaksana. Bukan karena dia punya rencana besar. Bukan karena dia ingin terkenal. 

Dia hanya ingin menaruh sedikit harapan ke dalam dunia yang penuh keputusasaan. 

Dan yang terjadi? Jutaan orang di seluruh dunia menemukan diri mereka dalam rubah kecil itu. Mereka melihat kecemasan mereka sendiri. Kesedihan mereka sendiri. Pertanyaan mereka sendiri tentang bagaimana bertahan hidup di dunia yang begitu indah sekaligus begitu menyakitkan. 

"Fox Under The Moon" bukan buku biasa. Ini adalah pelukan hangat dalam bentuk kata dan gambar. Ini adalah teman di malam yang gelap. Ini adalah pengingat bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.

 


1 dari 9