CEO yang Tidak Mungkin
Kathryn Petersen duduk di ruang rapat DecisionTech untuk pertama kalinya sebagai CEO baru. Setelah dua minggu mengamati, dia punya lebih dari beberapa momen di mana dia bertanya-tanya apakah dia seharusnya menolak pekerjaan ini.
Tapi Kathryn tahu ada sedikit kemungkinan dia akan menolaknya. Pensiun membuatnya gelisah, dan tidak ada yang lebih membuatnya bersemangat selain tantangan.
Yang tidak bisa dia ketahui ketika menerima pekerjaan ini adalah betapa disfungsionalnya timnya—dan bagaimana anggota tim akan menantangnya dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya.
Kathryn adalah pilihan yang aneh untuk Silicon Valley. Dia berusia lebih tua dari sebagian besar eksekutif yang harus dia pimpin. MBA-nya dari Cal State Hayward, bukan Stanford atau Harvard. Background-nya? Pabrik manufaktur mobil. Bukan teknologi. Bukan startup.
DecisionTech dulunya adalah bintang yang sedang naik. Dua tahun lalu, perusahaan ini menjanjikan. Produknya superior. Timnya brilian. Pendanaannya kuat. Tapi sekarang? Mereka tertinggal dari kompetitor. Moral menurun. Karyawan terbaik mulai pergi.
Masalahnya bukan produk. Bukan pasar. Bukan strategi.
Masalahnya adalah tim kepemimpinan.
Mereka adalah koleksi orang pintar yang brilian secara individual tapi gagal total sebagai tim. Dan itu memb unuh perusahaan dari dalam.
Ketua Dewan mencari Kathryn karena satu alasan: dia ahli dalam membangun tim. Bukan teknologi. Bukan strategi bisnis. Tapi tim.
Dan DecisionTech desperately membutuhkannya.