Ukuran teks
18

Dari Mimpi Anak Kecil ke Laboratorium Fisika

Tahun 1966. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun duduk terpaku di depan televisi hitam putih, menonton serial "Star Trek" yang baru tayang perdana. 

Mata kecilnya membesar ketika melihat Kapten Kirk mengatakan, "Beam me up, Scotty"—dan dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari planet asing dan muncul kembali di kapal Enterprise. 

Teleportasi. 

Lalu dia melihat USS Enterprise melompat ke "warp speed"—melintasi galaksi dalam hitungan detik, melampaui kecepatan cahaya. 

Perjalanan antarbintang. 

Kemudian melihat Dr. Spock menggunakan "mind meld"—membaca pikiran orang lain dengan sentuhan. 

Telepati. 

Anak itu adalah Michio Kaku—yang kelak menjadi salah satu fisikawan teoretis paling terkenal di dunia. 

Dan pertanyaan yang menghantuinya sejak malam itu adalah: "Apakah ini semua benar-benar mustahil? Atau hanya belum mungkin?" 

Puluhan tahun kemudian, setelah mendedikasikan hidupnya untuk fisika teoretis, Kaku menulis "Physics of the Impossible"—sebuah buku yang menjawab pertanyaan itu dengan cara yang mengejutkan: 

Hampir semua yang kita lihat di fiksi ilmiah—dari perisai energi hingga mesin waktu—tidak melanggar hukum fisika yang diketahui. Itu berarti suatu hari, mungkin saja terwujud.

Tapi ada hirarki kemustahilan. Beberapa teknologi mungkin dalam abad ini. Beberapa dalam ribuan tahun. Dan beberapa mungkin memang mustahil selamanya. 

Mari kita jelajahi batas antara mimpi dan kenyataan.

 


1 dari 12