Ukuran teks
18

Kota yang Dibangun oleh Minyak, Dibakar oleh Konsekuensinya

3 Mei 2016, pukul 4 sore. 

Fort McMurray, Alberta, Kanada. Kota kecil di jantung hutan boreal. Rumah bagi 88,000 jiwa. Dan jantungnya industri tar sands—salah satu deposit minyak terbesar di dunia. 

Penduduk melihat asap di kejauhan. Tidak terlalu mengkhawatirkan. Api hutan adalah hal biasa di sini. Petugas pemadam sudah menangani. Masih jauh dari kota. Aman. 

Pukul 5 sore. 

Asap mendekat. Lebih hitam. Lebih tebal. Tapi masih terkendali, kata mereka.

Pukul 6 sore. 

Langit berubah jingga. Kemudian merah. Lalu hitam. Abu mulai turun seperti salju di musim panas. Daun-daun pohon di halaman rumah terbakar spontan—tidak ada api yang menyentuh mereka, hanya panas udara. 

Perintah evakuasi keluar: "Tinggalkan sekarang. Ambil apa yang bisa Anda bawa. Pergi." 

88,000 orang—seluruh populasi kota—berlomba ke jalan raya yang sama. Satu-satunya jalan keluar. Ke utara, menjauhi api. 

Tapi api bergerak lebih cepat daripada mereka. 

Di kedua sisi jalan raya, hutan meledak dalam api. Pohon-pohon setinggi 30 meter menjadi obor raksasa. Panas begitu intens sehingga cat mobil melepuh. Kaca jendela retak. Orang-orang mengemudi melalui koridor api—tidak bisa berhenti, tidak bisa mundur, hanya bisa terus maju dan berharap mereka melewatinya sebelum mobil atau paru-paru mereka menyerah.

Seorang ibu dengan dua anak di kursi belakang mengemudi sambil menangis, memegang kemudi dengan satu tangan dan memegang tangan anak-anaknya dengan tangan lain, membisikkan doa bahwa ini bukan akhir. 

Seorang ayah melihat di kaca spion: rumahnya—rumah yang dia bangun dengan tangannya sendiri—diselimuti api dalam sekejap. 30 tahun kenangan. Hilang dalam 30 detik. 

2,400 rumah dan bangunan hancur dalam semalam. Kerugian: $9.9 miliar—kebakaran termahal dalam sejarah Kanada. 

Tapi yang paling mengejutkan: tidak ada yang mati. 

88,000 orang berhasil keluar. Sebuah keajaiban. Atau mungkin, peringatan terakhir dari alam yang masih memberi kita kesempatan. 

John Vaillant, jurnalis investigasi yang telah menghabiskan puluhan tahun menulis tentang hubungan manusia dengan alam, menghabiskan bertahun-tahun meneliti kebakaran ini. Dan apa yang dia temukan lebih menakutkan daripada api itu sendiri: 

Ini bukan anomali. Ini adalah pratinjau. 

Selamat datang di era "fire weather"—cuaca api. Era di mana api tidak lagi berperilaku seperti yang kita kenal. Era di mana kota-kota bisa hilang dalam hitungan jam. Era yang kita ciptakan sendiri. 

Mari kita mulai dari awal.

 


1 dari 11