Parade yang Mengerikan
4 Juli 1923. Independence Day di Kokomo, Indiana.
Bayangkan Anda berdiri di pinggir jalan main street sebuah kota kecil Amerika. Musik marching band mengisi udara. Anak-anak berlarian dengan bendera Amerika kecil di tangan. Aroma hot dog dan popcorn tercium dari kios-kios. Ini seharusnya perayaan kebebasan, perayaan demokrasi Amerika.
Lalu Anda melihatnya.
Satu per satu, mereka datang. Puluhan ribu orang berbaris dalam formasi sempurna. Semuanya mengenakan jubah putih panjang dengan topi kerucut yang menutupi wajah mereka. Di dada mereka: salib merah menyala. Di tangan mereka: obor dan bendera Amerika.
Ini bukan film horror. Ini bukan mimpi buruk.
Ini adalah Ku Klux Klan—dan mereka tidak bersembunyi di balik kegelapan malam. Mereka berbaris dengan bangga di bawah siang bolong, di depan ribuan warga yang bersorak dan bertepuk tangan.
Di tahun 1920-an, KKK tidak hanya hidup di Selatan Amerika—tempat kita biasa membayangkan mereka. Mereka menguasai jantung Amerika—Indiana, Ohio, Michigan, Oregon. Mereka bukan sekelompok ekstremis pinggiran. Mereka adalah mainstream. Mereka adalah tetangga Anda, bos Anda, gubernur Anda, pastor Anda.
Dan di puncak kekuasaan mereka berdiri seorang pria bernama D.C. Stephenson—salesman karismatik yang mengubah kebencian menjadi bisnis jutaan dolar dan hampir menguasai seluruh negara bagian Indiana.
Tapi ada seorang wanita muda bernama Madge Oberholtzer yang keberaniannya—bahkan dalam kematian—akan meruntuhkan kerajaan kebencian ini.
Timothy Egan, penulis pemenang Pulitzer Prize, menulis "A Fever in the Heartland" bukan hanya sebagai pelajaran sejarah. Ini adalah peringatan. Karena apa yang terjadi di tahun 1920-an bisa terjadi lagi—dan dalam beberapa hal, sedang terjadi sekarang.
Mari kita masuki dunia yang gelap ini dan pelajari bagaimana sebuah bangsa hampir kehilangan jiwanya.