Catatan di Margin Buku yang Mengubah Sejarah
Bayangkan ini: Tahun 1637. Seorang pengacara Prancis bernama Pierre de Fermat sedang membaca buku matematika kuno karya Diophantus. Di margin buku itu, dia mencoret-coret catatan.
Dia menulis tentang persamaan sederhana yang terlihat mirip dengan teorema Pythagoras yang dipelajari anak sekolah:
x² + y² = z²
Semua orang tahu persamaan ini punya solusi—misalnya 3² + 4² = 5², atau 5² + 12² = 13².
Tapi Fermat menulis sesuatu yang mengejutkan: Jika pangkatnya lebih dari 2—x³ + y³ = z³, atau x⁴ + y⁴ = z⁴, atau lebih tinggi lagi—tidak ada solusi bilangan bulat yang mungkin.
Dan di margin itu, dia menambahkan kalimat yang akan menghantui matematikawan selama lebih dari tiga abad:
"Saya telah menemukan pembuktian yang benar-benar menakjubkan untuk proposisi ini, tetapi margin ini terlalu sempit untuk memuatnya."
Lalu dia meninggal tanpa pernah menuliskan pembuktian itu.
Selama 358 tahun, matematikawan terbaik dunia mencoba membuktikan pernyataan sederhana ini. Leonhard Euler—salah satu matematikawan terhebat sepanjang masa—mencoba dan gagal. Sophie Germain menghabiskan hidupnya untuk ini dan hanya berhasil sebagian. Ratusan matematikawan brilian hancur karir mereka mengejar pembuktian yang selalu terasa "hampir di sana."
Hingga tahun 1994, seorang profesor matematika bernama Andrew Wiles—yang telah terobsesi dengan masalah ini sejak usia 10 tahun—akhirnya memecahkan teka-teki terbesar dalam matematika.
Ini bukan hanya cerita tentang angka. Ini cerita tentang obsesi manusia, pengorbanan, kegagalan yang hampir menghancurkan, dan kemenangan yang datang dari ketekunan yang tidak masuk akal.
Mari kita mulai perjalanan luar biasa ini.