Ukuran teks
18

Ketika "Bahagia Selamanya" Tidak Membahagiakan

Bayangkan Anda hidup di tahun 1960. Anda perempuan, menikah dengan pria yang baik, punya dua atau tiga anak yang sehat, tinggal di rumah suburban yang nyaman dengan halaman hijau. 

Anda punya mesin cuci terbaru. Kulkas yang besar. Mobil di garasi. Suami yang bekerja keras dan pulang setiap sore. Anak-anak yang ceria bermain di halaman. 

Ini adalah impian Amerika. Ini adalah apa yang dikatakan majalah, iklan, film, dan semua orang sebagai puncak kesuksesan perempuan. 

Tapi setiap pagi, ketika suami pergi kerja dan anak-anak pergi sekolah, Anda berdiri di dapur yang rapi, menatap tumpukan cucian, dan merasakan sesuatu yang menakutkan: 

Kekosongan. 

Ada pertanyaan yang terus berbisik di kepala Anda: "Apakah ini saja? Apakah ini semua yang ada dalam hidup saya?" 

Tapi Anda tidak bisa mengatakannya keras-keras. Karena Anda tahu apa yang akan orang bilang: 

"Kamu tidak bersyukur." "Banyak perempuan yang ingin punya hidupmu." "Mungkin kamu butuh terapi. Ada yang salah denganmu." 

Jadi Anda diam. Anda tersenyum. Anda minum pil tidur dokter berikan. Anda bertahan.

Dan Anda pikir Anda sendirian dalam perasaan ini. 

Tapi Anda tidak sendirian.

Pada tahun 1963, Betty Friedan—jurnalis, ibu rumah tangga, dan lulusan Smith College—mempublikasikan buku yang akan mengubah segalanya. Dia memberi nama pada perasaan yang dialami jutaan perempuan tapi tidak pernah diucapkan: 

"The Problem That Has No Name"—Masalah yang Tak Punya Nama. 

Dan dia melakukan sesuatu yang lebih berani lagi: dia mengungkap bahwa masalah ini bukan masalah individual perempuan yang "rusak"—tapi masalah dengan sistem yang menjanjikan kebahagiaan melalui keterbatasan. 

Selamat datang di "The Feminine Mystique"—buku yang menggerakkan revolusi.

 


1 dari 10