Ukuran teks
18

Satu Hari yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda berusia 19 tahun. 

Anda berdiri di dalam kapal pendarat yang bergoyang keras di tengah gelombang Selat Inggris. Air laut dingin membasahi sepatu boot Anda. Di sekeliling, puluhan ribu tentara lain dalam kapal-kapal serupa—semua menuju ke arah yang sama. 

Anda belum pernah membunuh siapa pun. Anda baru lulus SMA dua tahun lalu. Kemarin Anda masih seorang anak yang bermain baseball di halaman belakang rumah di Kansas. 

Sekarang Anda memegang senapan dengan tangan gemetar, mendengar komandan berteriak melalui kebisingan mesin dan ombak: 

"TIGA PULUH DETIK!" 

Pintu kapal akan terbuka. Anda akan berlari keluar ke pantai. 

Dan di pantai itu, ribuan senapan mesin Jerman menunggu—sudah dipasang selama berbulan-bulan, diperhitungkan dengan presisi matematis untuk membunuh sebanyak mungkin orang yang keluar dari kapal seperti Anda. 

Komandan bilang 30% dari Anda mungkin tidak akan selamat dalam lima menit pertama.

Anda tidak tahu apakah Anda termasuk 30% itu atau bukan. 

Pintu terbuka. Air laut merah. Jeritan. Ledakan. Tembakan dari segala arah.

"GO! GO! GO!" 

Ini adalah 6 Juni 1944—D-Day—hari yang akan dikenang sebagai awal akhir dari Nazi Jerman dan titik balik Perang Dunia II. 

Tapi bagi Anda, bagi puluhan ribu tentara muda yang melompat dari kapal pagi itu, ini bukan tentang sejarah atau strategi besar.

Ini tentang bertahan hidup dalam lima menit berikutnya. 

Rick Atkinson, sejarawan pemenang Pulitzer Prize, menghabiskan bertahun-tahun merekonstruksi hari itu—tidak hanya dari perspektif jenderal dan strategi besar, tetapi dari mata dan hati para tentara biasa yang membuat invasi terbesar dalam sejarah menjadi kenyataan. 

"The Fate of the Day" adalah kisah mereka. 

Mari kita mulai dari awal.

 


1 dari 9