Negeri di Balik Cermin
Bayangkan Anda bangun suatu pagi dan menemukan bahwa mayoritas tetangga Anda percaya:
● Bumi ini umurnya hanya 6.000 tahun
● Alien secara rutin mengunjungi planet ini dan menculik manusia
● Pemerintah menyembunyikan obat kanker untuk melindungi industri farmasi
● 9/11 adalah "inside job" yang didalangi CIA
● Vaksin menyebabkan autisme meskipun semua bukti ilmiah membantahnya
● Sandy Hook adalah hoax yang dimainkan oleh aktor bayaran
Anda mungkin berpikir Anda telah terbangun di dimensi paralel. Tapi ini bukan fiksi ilmiah. Ini adalah Amerika hari ini.
Selamat datang di Fantasyland.
Kurt Andersen, dalam bukunya yang menggemparkan ini, mengajukan pertanyaan yang mengguncang: Bagaimana bangsa yang menciptakan iPhone, mendaratkan manusia di bulan, dan membangun internet bisa menjadi begitu... gila?
Jawabannya mengejutkan: Amerika tidak "menjadi gila." Amerika selalu gila. Fantasi, magical thinking, dan kebebasan untuk percaya apa pun yang kita mau adalah DNA fundamental Amerika sejak hari pertama.
"Amerika," tulis Andersen, "diciptakan oleh pemimpi yang penuh harap, pemikir magis, dan orang-orang yang benar-benar percaya. Oleh dalang dan korban mereka. Fantasi tertanam dalam dalam DNA kita."
Selama 500 tahun—dari Salem witch trials hingga Scientology, dari P.T. Barnum hingga Hollywood, dari conspiracy theories hingga obsesi pada senjata dan alien—cinta Amerika pada hal-hal fantastis telah membuat negara ini "exceptional" dengan cara yang tidak pernah kita akui sepenuhnya.
Dari awal, ultra-individualisme Amerika terhubung dengan mimpi dan fantasi epik—setiap warga negara bebas untuk percaya apa pun, atau menyamar menjadi siapa pun.
Dan kini, di era internet dan media sosial, kita telah melewati titik kritis. Reality dan fantasy telah bercampur secara berbahaya. Amerika telah bermutasi menjadi Fantasyland.
Mari kita mulai perjalanan 500 tahun ini. Dari kapal Mayflower hingga Twitter. Dari witch trials hingga Trump.