Ketika Simpanse Lebih Pintar dari Para Ahli
Oktober 1995. Saya berdiri di depan kelas mahasiswa kedokteran tingkat lanjut di Institut Karolinska, Stockholm. Mahasiswa-mahasiswa cemerlang ini—calon dokter yang telah melewati tahun-tahun pendidikan ketat—akan segera menghadapi dunia sebagai profesional kesehatan global.
Saya memberikan mereka kuis sederhana. Tiga belas pertanyaan tentang tren global dasar: Berapa persen anak perempuan di dunia yang menyelesaikan sekolah dasar? Bagaimana tingkat kemiskinan ekstrem berubah dalam 20 tahun terakhir? Berapa persen populasi dunia yang memiliki akses ke listrik?
Hasilnya mengejutkan saya hingga ke tulang.
Mereka menjawab lebih buruk dari simpanse yang memilih jawaban secara acak. Secara sistematis, mereka memilih jawaban paling pesimis, paling keliru.
Ini bukan tentang kecerdasan. Mahasiswa ini brilian. Ini tentang sesuatu yang lebih dalam dan lebih berbahaya: pandangan dunia yang terdistorsi secara dramatis.
Selama 20 tahun berikutnya, saya menguji ribuan orang—guru, jurnalis, penerima Nobel, bankir investasi, politisi—di seluruh dunia. Hasilnya selalu sama. Secara konsisten, orang-orang terpelajar di seluruh dunia memiliki pemahaman yang sangat salah tentang keadaan dunia.
Dan yang lebih mengkhawatirkan: mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu.
Ini adalah buku terakhir saya—pertempuran terakhir dalam misi seumur hidup saya melawan ketidaktahuan yang menghancurkan. Sebelumnya saya mempersenjatai diri dengan dataset besar, software yang membuka mata, gaya pembelajaran yang energetik, dan bahkan bayonet Swedia untuk menelan pedang.
Itu tidak cukup. Tapi saya harap buku ini akan cukup.