Ukuran teks
18

Friendly Fire—Kesalahan Terburuk

Ramadi, Iraq, 2006. Pagi yang berkabut. 

Jocko Willink, komandan SEAL Task Unit Bruiser, mendengar tembakan sengit. Laporan masuk: unit mereka diserang. Gedung dikepung. Ada yang terluka. 

Dia bergegas ke lokasi dengan tim. Asap memenuhi udara. Debu beterbangan. Chaos di mana-mana. 

Lalu dia menyadari sesuatu yang mengerikan: ini bukan serangan musuh. Ini friendly fire—mereka menembaki tentara sendiri. 

Satu tentara Iraq tewas. Satu SEAL terluka. Beberapa lainnya hampir mati. 

Friendly fire adalah kesalahan paling memalukan dalam militer. Lebih buruk daripada dikalahkan musuh. Ini berarti kegagalan total koordinasi, komunikasi, dan kepemimpinan. 

Investigasi dimulai. Para petinggi marah. Karir Jocko dipertaruhkan. 

Dalam investigasi, mereka menemukan banyak kesalahan: 

● Unit lain tidak mengikuti prosedur 

● Komunikasi radio gagal 

● Map salah dibaca 

● Cuaca buruk mengurangi visibility 

Ada banyak orang dan faktor yang bisa disalahkan. Jocko bisa menyelamatkan karirnya dengan menunjuk jari ke orang lain. 

Tapi dia tidak melakukannya. 

Dalam rapat dengan komandan senior, Jocko berdiri dan berkata dengan tegas:

"Ini semua salah saya." 

Tidak ada "tapi." Tidak ada "karena orang lain." Tidak ada pembelaan. 

Dia mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan operasi. Dia yang seharusnya memastikan semua unit terkoordinasi dengan baik. Dia yang seharusnya memastikan komunikasi jelas. Dia yang seharusnya mengantisipasi risiko. 

Karena dia komandan. Dan komandan bertanggung jawab atas segalanya. 

Yang mengejutkan? Dia tidak dipecat. Sebaliknya, para petinggi menghormatinya. Mereka tahu pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab penuh adalah pemimpin yang langka—dan berharga. 

Dari insiden ini lahirlah prinsip yang mengubah tidak hanya unit SEAL-nya, tetapi juga ratusan perusahaan di seluruh dunia: 

Extreme Ownership—kepemimpinan tanpa kompromi. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11