Seekor Siput yang Bunuh Diri
Bayangkan Anda adalah seekor siput yang sedang merayap di ranting pohon pagi ini.
Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Alih-alih bersembunyi di bawah daun seperti biasa—menghindari burung pemangsa yang mencari sarapan—Anda merasa dorongan kuat untuk naik ke pucuk tertinggi. Ke tempat yang paling terlihat. Ke tempat yang paling berbahaya.
Anda tahu ini bodoh. Naluri bertahan hidup Anda berteriak untuk bersembunyi. Tapi entah mengapa, kaki Anda terus bergerak naik. Naik. Naik.
Sampai Anda berada di puncak ranting, terpapar sepenuhnya, cangkang Anda berdenyut dengan warna-warna cerah yang tidak biasa—hijau, oranye, terang seperti lampu neon yang berkata: "MAKAN AKU!"
Dan sebuah burung melihat Anda. Turun. Mematuk. Menelan.
Anda mati.
Tapi sesuatu di dalam Anda—sesuatu yang bukan Anda—baru saja mencapai tujuannya.
Di dalam tubuh Anda ada parasit: cacing pipih kecil bernama Leucochloridium. Parasit ini telah menginfeksi Anda sejak larva. Dan sekarang, ia perlu pindah ke tahap kehidupan berikutnya. Tapi untuk itu, ia perlu masuk ke dalam tubuh burung.
Jadi parasit itu melakukan sesuatu yang luar biasa: ia membajak otak Anda.
Ia membuat Anda naik ke tempat berbahaya. Ia mengubah warna cangkang Anda menjadi mencolok. Ia membuat Anda berperilaku dengan cara yang menjamin kematian Anda—tapi memastikan kelangsungan hidup gennya.
Anda—siput—hanyalah alat. Kendaraan. Boneka yang dikendalikan oleh tali genetik.
Tapi tunggu. Jika parasit bisa melakukan ini pada siput, pertanyaan yang menggelisahkan muncul:
Seberapa banyak dari perilaku kita sendiri—manusia—adalah hasil dari gen kita sendiri yang "membajak" kita untuk kepentingan mereka?
Inilah pertanyaan yang dijawab Richard Dawkins dalam "The Extended Phenotype"—buku yang mengubah cara kita memahami evolusi, gen, dan bahkan diri kita sendiri.
Mari kita mulai dengan pertanyaan fundamental: Siapa yang sebenarnya berevolusi?