Ukuran teks
18

Pintu yang Mengubah Dunia

Bayangkan ini: Anda bangun dan mendengar ledakan di kejauhan. Bukan petasan. Bukan gemuruh petir. Tapi bom. 

Toko favorit Anda yang kemarin masih buka, hari ini sudah jadi puing. Kafe tempat Anda biasa nongkrong sekarang penuh lubang peluru. Jalanan yang dulu ramai dengan tawa dan percakapan, sekarang sepi—orang-orang takut keluar rumah. 

Listrik mati lebih sering daripada menyala. Internet kadang ada, kadang tidak. Universitas tutup. Kantor tutup. Satu per satu, teman-teman Anda menghilang—ada yang tewas, ada yang melarikan diri. 

Lalu Anda mendengar rumor. Rumor tentang pintu

Bukan pintu biasa. Pintu ajaib yang bisa membawa Anda keluar dari neraka ini. Anda tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Anda tidak tahu apakah itu nyata. Tapi Anda tahu satu hal: tinggal di sini berarti kematian yang lambat—atau cepat. 

Apakah Anda akan melewati pintu itu? 

Ini adalah pertanyaan yang dihadapi Nadia dan Saeed—dua protagonis dalam "Exit West" karya Mohsin Hamid. Novel yang dengan brilian menggunakan elemen fantasi sederhana (pintu ajaib) untuk menceritakan kisah sangat nyata tentang jutaan pengungsi di dunia kita hari ini. 

Tapi sebelum kita bicara tentang pelarian, kita harus bicara tentang cinta. Karena tanpa cinta, tidak ada yang perlu diselamatkan. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11