Ukuran teks
18

Surat yang Mengubah Segalanya

Pukul 8 pagi di bulan Januari yang dingin, seseorang mengetuk pintu apartemen Arleen. Dia tidak membuka. Dia sudah tahu siapa itu. 

Melalui celah pintu, selembar kertas putih diselipkan. Lima hari untuk keluar. Kalau tidak, sheriff akan datang. 

Ini adalah penggusuran ketiga Arleen dalam dua tahun terakhir. 

Dia tidak punya uang. Tidak punya keluarga yang bisa ditumpangi. Dua anaknya—Jori (13 tahun) dan Jafaris (5 tahun)—bertanya: "Mama, kita mau tinggal di mana?" 

Arleen tidak tahu jawabannya. 

Di seberang kota, di trailer park yang kumuh, Scott—seorang pria kulit putih berusia 50-an dengan cacat kaki—juga menerima surat serupa. Dia menghabiskan sebagian besar cek disabilitasnya untuk heroin. Sekarang dia tidak punya cukup untuk sewa. Lima hari untuk keluar. 

Di gedung pengadilan Milwaukee, ratusan orang mengantre. Beberapa dengan anak-anak. Beberapa dengan tongkat. Kebanyakan adalah perempuan kulit hitam. Mereka semua ada di sini untuk satu alasan: sidang penggusuran. 

Setiap hari, 16 keluarga digusur di Milwaukee. Setiap tahun, lebih dari 16.000 orang dewasa dan anak-anak kehilangan rumah mereka—bukan karena bencana alam, bukan karena krisis ekonomi global. 

Tapi karena mereka miskin. Dan karena ada orang yang menghasilkan uang dari kemiskinan mereka. 

Matthew Desmond, seorang profesor sosiologi Harvard, menghabiskan dua tahun tinggal di lingkungan termiskin di Milwaukee, mengikuti delapan keluarga yang berjuang melawan penggusuran.

Apa yang dia temukan mengejutkan: Penggusuran bukan hanya konsekuensi dari kemiskinan. Penggusuran adalah penyebab kemiskinan. 

Dan di balik setiap penggusuran, ada seseorang yang menghasilkan keuntungan.

Mari kita masuk ke dalam dunia yang tidak terlihat ini.

 


1 dari 10