Anak Bernama Henry
Bayangkan Anda berdiri di sebuah rumah sakit di Freetown, Sierra Leone. Tahun 2019.
Bangunan sederhana. Cat mengelupas. Peralatan medis yang seharusnya sudah pensiun puluhan tahun lalu. Pasien berbaring di ranjang tanpa kasur yang layak. Udara pengap bercampur bau antiseptik murah dan keputusasaan.
Lalu Anda bertemu seorang anak laki-laki. Kaki kurus kering seperti ranting. Tapi senyumnya—senyumnya lebar dan menular. Matanya berbinar ketika dia mengajak Anda berkeliling rumah sakit, menunjukkan laboratorium, memperkenalkan Anda pada perawat, berbicara dalam bahasa Inggris yang mengejutkan baik untuk usianya.
Nama dia Henry.
Anda pikir dia anak dari staf rumah sakit. Atau mungkin pengunjung yang sedang menunggu orang tuanya. Tapi kemudian seorang perawat berbisik: "Henry adalah pasien kami. Dia tinggal di sini."
Dan barulah Anda menyadari: anak berusia sembilan tahun ini—kurus, ceria, penuh harapan—sedang berjuang melawan penyakit yang seharusnya sudah punah sejak nenek moyang Anda.
Tuberkulosis.
Inilah kisah yang mengubah hidup John Green—penulis "The Fault in Our Stars," yang terbiasa menulis tentang remaja yang jatuh cinta dan mencari makna hidup. Kali ini, dia menulis tentang sesuatu yang lebih besar: tentang penyakit paling mematikan di dunia yang kita biarkan terus membunuh satu juta orang setiap tahun.
Meskipun kita punya obatnya.
Meskipun kita punya vaksinnya.
Meskipun kita tahu persis bagaimana menghentikannya.
Dan pertanyaan yang menghantui buku ini—pertanyaan yang harus menghantui kita semua—adalah: Mengapa?