Ukuran teks
18

Sarapan yang Tidak Pernah Datang

Bayangkan ini: Pagi tanggal 3 Mei 1977. Anda turun ke dapur untuk sarapan seperti biasa. Telur sudah dimasak. Roti panggang sudah disiapkan. Tapi ada satu kursi yang kosong. 

Putri favorit Anda—gadis yang selama 16 tahun menjadi pusat hidup keluarga, yang setiap hari Anda dorong untuk menjadi dokter, yang Anda harap akan memiliki teman-teman populer dan kehidupan sempurna—tidak turun untuk sarapan. 

Awalnya Anda pikir dia hanya bangun terlambat. Lalu Anda naik ke kamarnya. Tempat tidurnya rapi—sudut selimut masih terlipat sempurna seperti di hotel, bantal masih mengembung. Tas sekolahnya kusut di lantai lemari. Sepatu pelanginya tergeletak di sudut. 

Tapi putri Anda? Hilang. 

Beberapa hari kemudian, tubuhnya ditemukan di danau kota. Tenggelam. Dan dalam sekejap, keluarga yang Anda pikir Anda kenal—yang Anda pikir solid, yang Anda pikir baik-baik saja—hancur berkeping-keping. 

Polisi datang dengan pertanyaan. "Apakah putri Anda punya masalah di sekolah? Apakah dia punya teman? Apakah ada yang membuli dia?" 

Dan Anda menyadari sesuatu yang menghancurkan: Anda tidak tahu jawabannya. 

Anda mengira dia populer—ternyata dia kesepian. Anda mengira nilainya sempurna—ternyata dia hampir gagal. Anda mengira dia bahagia—ternyata beban yang Anda letakkan di pundaknya terlalu berat untuk ditanggung. 

Selama 16 tahun, putri Anda hidup di rumah yang sama dengan Anda. Makan di meja yang sama. Tidur hanya beberapa meter dari kamar Anda. 

Tapi ada segalanya yang tidak pernah dia katakan. Dan segalanya yang tidak pernah Anda tanyakan.

Ini adalah cerita keluarga Lee. Dan ini adalah cerita tentang bagaimana harapan yang tidak diucapkan, impian yang dipaksakan, dan kata-kata yang tidak pernah dikatakan bisa membunuh seseorang—perlahan, sunyi, sampai terlambat.

 


1 dari 10