Ukuran teks
18

Pagi yang Menentukan Nasib

Athena, 399 Sebelum Masehi. Pagi yang cerah di tangga Pengadilan Raja. 

Seorang pria tua berusia 70 tahun berjalan perlahan naik tangga. Rambutnya putih, tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang akan menghadapi persidangan yang bisa berakhir dengan hukuman mati. 

Namanya Sokrates. Dan hari ini, dia akan dituduh atas dua kejahatan serius: 

1. Tidak mengakui dewa-dewa negara dan memperkenalkan dewa-dewa baru

2. Merusak pemuda Athena dengan ajaran-ajarannya 

Di tangga yang sama, ada pria lain. Lebih muda. Berpakaian rapi. Tatapannya percaya diri—terlalu percaya diri. 

Namanya Euthyphro. Seorang ahli agama, peramal, dan orang yang mengklaim tahu segalanya tentang kesalehan dan kehendak para dewa. 

Dan dia sedang melakukan sesuatu yang sangat kontroversial di Athena kuno: dia sedang menuntut ayahnya sendiri atas pembunuhan. 

Dua orang ini bertemu. Dan percakapan yang terjadi di tangga itu—percakapan yang tampaknya sederhana tentang moralitas dan agama—akan menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat. 

Karena dalam 20 menit percakapan itu, Sokrates akan membongkar semua yang Euthyphro pikir dia tahu. Dan dalam prosesnya, dia akan mengajukan pertanyaan yang masih kita perdebatkan 2.400 tahun kemudian: 

Apakah sesuatu benar karena Tuhan mengatakannya? Atau Tuhan mengatakannya karena itu memang benar? 

Mari kita masuk ke percakapan yang luar biasa ini.

 


1 dari 11