Ukuran teks
18

Nama di Museum, Darah di Jalanan

Bayangkan Anda berjalan di Metropolitan Museum of Art di New York. Anda melewati Sackler Wing—galeri megah yang menampung Temple of Dendur, artifak Mesir kuno yang spektakuler. 

Atau mungkin Anda mengunjungi Smithsonian di Washington D.C., Louvre di Paris, atau British Museum di London. Di mana-mana, Anda melihat nama yang sama terukir di dinding: SACKLER. 

Nama yang identik dengan kedermawanan. Dengan seni. Dengan kebudayaan.

Tapi apa yang tidak tertulis di dinding-dinding museum itu? 

Bahwa nama Sackler juga terukir di ratusan ribu batu nisan di seluruh Amerika. Bahwa kekayaan yang membangun sayap museum itu berasal dari pil-pil yang menciptakan gelombang kecanduan paling mematikan dalam sejarah modern Amerika. 

Sejak tahun 1999, lebih dari 500,000 orang Amerika telah meninggal karena overdosis opioid. Lebih banyak dari jumlah tentara Amerika yang mati dalam Perang Dunia II. 

Dan di jantung krisis ini—di pusat epidemi yang menghancurkan keluarga, kota, dan seluruh generasi—adalah satu keluarga: keluarga Sackler. 

Mereka tidak menjual heroin di sudut jalan. Mereka tidak menyelundupkan fentanyl dari Meksiko. 

Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: mereka membuat kecanduan menjadi legal, dapat diresepkan, dan sangat menguntungkan. 

Patrick Radden Keefe menghabiskan bertahun-tahun meneliti bagaimana keluarga imigran Yahudi yang melarikan diri dari kemiskinan Brooklyn menjadi salah satu dinasti terkaya di Amerika—dan bagaimana mereka membangun kerajaan mereka di atas penderitaan jutaan orang.

Ini bukan hanya kisah tentang keserakahan. Ini adalah kisah tentang bagaimana American Dream bisa berubah menjadi American Nightmare. 

Mari kita mulai dari awal.

 


1 dari 11