Musuh Tertua Manusia
Mei 2004. Ruang kemoterapi di Massachusetts General Hospital, Boston.
Siddhartha Mukherjee, seorang dokter onkologi muda, duduk di samping tempat tidur pasiennya. Carla adalah seorang guru TK berusia 30 tahun. Tiga anak. Suami yang mencintainya. Seluruh hidup di depannya.
Dia juga punya leukemia—kanker darah yang agresif.
Mukherjee sedang menjelaskan rencana pengobatan: kemoterapi intensif selama berbulan-bulan. Efek samping yang brutal. Peluang survival yang tidak pasti.
Di tengah penjelasan, Carla menginterupsi dengan pertanyaan sederhana:
"Dokter, apa sebenarnya kanker itu? Mengapa saya mendapatkannya?"
Pertanyaan yang seharusnya mudah dijawab oleh seorang dokter kanker. Tapi Mukherjee terdiam.
Karena di balik pertanyaan sederhana itu adalah misteri yang telah membingungkan manusia selama 4.000 tahun. Penyakit yang telah membunuh kaisar dan rakyat jelata. Penyakit yang telah mengalahkan dokter paling brilian di dunia. Penyakit yang terus beradaptasi, bermutasi, dan bertahan meskipun kita melemparkan segalanya untuk mengalahkannya.
Kanker bukan hanya penyakit. Kanker adalah cermin yang paling jujur dari diri kita sendiri—sel kita sendiri yang tumbuh tak terkendali, versi terdistorsi dari kehidupan normal.
"The Emperor of All Maladies" adalah upaya Mukherjee untuk menjawab pertanyaan Carla—dan dalam prosesnya, menceritakan salah satu kisah paling dramatis dalam sejarah kedokteran.
Ini bukan buku tentang kematian. Ini buku tentang perjuangan, kegagalan, breakthrough, dan harapan dalam menghadapi musuh yang paling tangguh yang pernah dihadapi manusia.
Mari kita mulai dari awal.