Ukuran teks
18

Dua Murid yang Mengubah Segalanya

Tahun 1995. Daniel Goleman sedang mengajar di sebuah sekolah menengah elit di Amerika. Di kelasnya ada dua murid yang sangat berbeda: 

Jason: IQ 140 (genius level). Selalu dapat nilai sempurna di semua ujian. Menyelesaikan soal matematika yang membuat guru pusing. Membaca buku filosofi yang bahkan orang dewasa kesulitan pahami. Semua orang yakin dia akan sukses luar biasa. 

Michael: IQ 110 (di atas rata-rata, tapi tidak jenius). Nilai akademisnya baik, tapi tidak sempurna. Tapi ada yang spesial dari Michael: dia bisa membaca ruangan. Dia tahu kapan temannya sedang sedih dan butuh teman bicara. Dia bisa meredakan konflik di antara teman-temannya. Dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. 

Sepuluh tahun kemudian, Goleman melakukan follow-up. 

Jason lulus dengan predikat summa cum laude dari universitas top. Tapi dia berganti pekerjaan enam kali dalam lima tahun. Tidak bisa bekerja dalam tim. Tidak bisa menerima kritik. Meledak marah ketika ide-idenya ditolak. Hubungan pribadinya berantakan. Dia brilian—tapi kesepian dan frustrasi. 

Michael masuk universitas yang baik tapi tidak sebergengsi Jason. Tapi sekarang dia menjadi manajer di perusahaan Fortune 500. Punya tim yang loyal. Menikah bahagia. Punya jaringan luas dari orang-orang yang menghargai dan mempercayainya. 

Apa yang membuat perbedaan? 

Bukan IQ. Tapi EQ—Emotional Intelligence. 

Goleman menghabiskan puluhan tahun meneliti pertanyaan ini: Mengapa orang dengan IQ tinggi kadang gagal dalam hidup, sementara orang dengan IQ rata-rata meraih kesuksesan luar biasa?

Jawabannya mengejutkan dunia pendidikan dan bisnis: Kecerdasan emosional—kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi kita sendiri dan orang lain—adalah prediktor kesuksesan yang lebih baik daripada IQ. 

Buku "Emotional Intelligence" bukan hanya mengubah cara kita memahami kesuksesan. Buku ini mengubah cara kita membesarkan anak, memimpin perusahaan, membangun hubungan, dan menjalani hidup. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 8