Ukuran teks
18

Misteri Orang Pintar yang Gagal

Bayangkan dua orang di kantor Anda. 

Yang pertama adalah Sarah. IQ-nya 140—genius menurut standar apa pun. Lulusan universitas top dengan nilai sempurna. Ahli di bidangnya. Tapi entah kenapa, karirnya stagnan. Rekan kerjanya menghindarinya. Bosnya jarang memberinya proyek penting. Ia sering konflik dengan tim dan merasa frustrasi karena "tidak ada yang mengerti." 

Yang kedua adalah Michael. IQ-nya rata-rata—110. Nilainya di universitas biasa saja. Tapi dalam lima tahun, ia naik dari posisi entry-level menjadi manager. Semua orang suka bekerja dengannya. Bosnya mempercayainya untuk proyek kritis. Timnya loyal dan produktif. 

Apa yang membuat Michael berhasil sementara Sarah kesulitan? 

Jawabannya bukan IQ. Bukan juga pendidikan atau keahlian teknis. 

Jawabannya adalah kecerdasan emosional (Emotional Intelligence atau EQ). 

Selama puluhan tahun, kita percaya bahwa IQ adalah prediktor terbaik untuk kesuksesan. Orang pintar akan sukses, orang tidak begitu pintar akan tertinggal. Sederhana. 

Tapi riset menemukan sesuatu yang mengejutkan: Orang dengan IQ rata-rata mengalahkan orang dengan IQ tinggi sebanyak 70% dari waktu. 

Ini adalah anomali besar. Harus ada faktor lain yang menjelaskan kesuksesan di luar IQ. Dan faktor itu adalah EQ. 

Studi menemukan bahwa EQ menyumbang sekitar 58% dari performa dalam kebanyakan pekerjaan. Orang dengan EQ tinggi menghasilkan rata-rata $29,000 lebih per tahun dibanding mereka dengan EQ rendah. 

Yang lebih baik lagi: berbeda dengan IQ yang cenderung tetap seumur hidup, EQ bisa dikembangkan dengan latihan dan persistensi.

Ini adalah kabar baik. Ini berarti kesuksesan Anda tidak ditentukan oleh gen atau pendidikan masa lalu. Anda bisa meningkatkan EQ Anda—dan dengan itu, meningkatkan performa, hubungan, dan kebahagiaan Anda.

 


1 dari 9