Wanita yang Tidak Terlihat
Coba perhatikan orang-orang di sekitar Anda hari ini.
Di bus pagi. Di kantor. Di supermarket. Berapa banyak yang benar-benar Anda lihat? Berapa banyak yang hanya menjadi latar belakang—wajah tanpa nama, kehidupan tanpa cerita?
Eleanor Oliphant adalah salah satu orang itu.
Setiap hari, dia duduk di meja yang sama di kantor desain grafis. Mengerjakan spreadsheet. Makan siang sendiri dengan sandwich keju yang sama. Pulang ke apartemen kosong yang sama. Membeli dua botol vodka yang sama setiap Jumat malam. Menghabiskan akhir pekan sendirian.
Selama sembilan tahun.
Tidak ada yang benar-benar mengenalnya. Tidak ada yang bertanya bagaimana kabarnya—atau jika bertanya, dia selalu menjawab dengan kalimat yang sama:
"I'm fine, thank you."
Baik-baik saja.
Tapi Eleanor Oliphant tidak baik-baik saja. Bahkan tidak mendekati baik-baik saja.
Di bawah rutinitas yang rigid, kesopanan yang kaku, dan jawaban otomatis itu, ada seorang wanita yang hancur. Seorang wanita yang belum pernah merayakan ulang tahun sejak dia berusia sepuluh tahun. Seorang wanita yang berbicara dengan ibunya di telepon setiap Rabu malam—ibu yang menghancurkannya dengan kata-kata beracun. Seorang wanita yang membawa bekas luka—secara harfiah dan metaforis—dari masa lalu yang terlalu menyakitkan untuk diingat.
Tapi suatu hari Rabu biasa, sesuatu berubah.
Seorang pria tua jatuh di jalan. Eleanor dan Raymond—rekan kerja yang berantakan yang biasanya dia hindari—menolongnya. Dan dalam momen itu, dalam tindakan kebaikan sederhana itu, retakan pertama muncul di tembok yang Eleanor bangun di sekitar dirinya.
Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika retakan itu semakin lebar. Ketika cahaya mulai masuk ke dalam kegelapan. Ketika seseorang yang telah lama "bertahan hidup" mulai belajar untuk "hidup."
Dan yang paling penting—ini adalah kisah tentang keberanian luar biasa yang dibutuhkan untuk mengakui kebenaran yang paling menakutkan:
"Saya tidak baik-baik saja. Dan saya membutuhkan bantuan."