Kompas yang Mengubah Dunia
Tahun 1884. Seorang anak berusia empat tahun terbaring di tempat tidur, demam. Ayahnya, Hermann Einstein, mencoba menghiburnya dengan memberikan sesuatu yang sederhana: sebuah kompas saku.
Anak itu menatap jarum kompas dengan mata yang membesar. Ia memutarnya ke kiri—jarum kembali menunjuk utara. Ia memutarnya ke kanan—jarum tetap menunjuk utara.
Tidak ada tali yang menariknya. Tidak ada tangan yang mendorongnya. Ada kekuatan tak terlihat yang mengendalikan jarum itu.
Bagi kebanyakan anak, ini mungkin hanya mainan menarik. Tapi bagi Albert Einstein, ini adalah keajaiban yang mengungkapkan rahasia mendalam: dunia dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan tak terlihat yang mengikuti aturan yang bisa dipahami.
"Pengalaman itu membuat kesan yang dalam dan awet pada saya," Einstein akan menulis bertahun-tahun kemudian. "Sesuatu yang sangat tersembunyi harus berada di balik segala sesuatu."
Rasa takjub itu—rasa ingin tahu yang intens, keheranan terhadap misteri alam semesta—tidak pernah meninggalkan Einstein. Bahkan ketika ia menjadi ilmuwan paling terkenal di dunia, ia tetap mempertahankan mata seorang anak yang melihat kompas untuk pertama kalinya.
Ini adalah kisah tentang bagaimana rasa ingin tahu itu mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta. Tentang bagaimana seorang anak pendiam dari Jerman menjadi pembaca pikiran Tuhan. Tentang bagaimana pemberontakan—bukan ketaatan—membuka pintu menuju kebenaran yang lebih dalam.