Dua Atlet, Dua Jalan Berbeda
Tahun 2007. Dua pemain basket muda dengan bakat luar biasa.
Pemain A adalah bintang. Semua orang membicarakannya. Dia tahu dia hebat. Di setiap interview, dia bicara tentang betapa dia akan mengubah permainan. Betapa dia adalah yang terbaik. Betapa masa depan adalah miliknya.
Kontrak endorsement mengalir. Magazine cover. Perhatian media. Dia menikmati semuanya. Dia percaya semua hype tentang dirinya.
Pemain B juga berbakat. Tapi ketika wartawan datang, dia bilang: "Saya masih banyak yang harus belajar. Saya beruntung punya pelatih dan tim yang bagus. Saya fokus pada kerja keras setiap hari."
Tidak glamor. Tidak quotable. Membosankan untuk media.
Sepuluh tahun kemudian:
Pemain A keluar masuk tim. Konflik dengan pelatih. Tidak bisa menerima kritik. Merasa lebih pintar dari sistem. Karirnya stagnan. Potensi terbuang.
Pemain B—yang tidak terlalu banyak bicara—menjadi juara beberapa kali. Salah satu pemain terbaik di generasinya. Dihormati oleh rekan dan lawan.
Apa bedanya? Ego.
Ryan Holiday menulis "Ego Is the Enemy" bukan sebagai ceramah moral. Dia menulis dari pengalaman—dia sendiri pernah menjadi korban ego di usia muda. Sebagai direktur marketing di American Apparel sebelum usia 25 tahun, dia pikir dia sudah "sampai." Dia pikir dia tahu segalanya.
Lalu segalanya runtuh. Dan dia belajar pelajaran paling penting dalam hidupnya:
Ego adalah musuh. Musuh pada saat bercita-cita, karena menghalangi pembelajaran. Musuh pada saat sukses, karena membuat kita berhenti berkembang. Musuh pada saat gagal, karena menghalangi kita bangkit.
Mari kita mulai perjalanan ini—perjalanan melawan musuh terbesar kita: diri kita sendiri.