Seorang Ekonom Mengundurkan Diri dalam Protes
Paris, Juni 1919. Hotel Majestic.
Seorang pria muda berusia 36 tahun duduk di mejanya, menulis surat pengunduran diri. Tangannya bergetar—bukan karena takut, tapi karena marah.
John Maynard Keynes, salah satu ekonom paling brilian di Inggris, perwakilan Treasury Britania di konferensi perdamaian paling penting dalam sejarah modern, memutuskan untuk pergi.
Bukan karena karir. Bukan karena uang. Tapi karena dia menyaksikan sesuatu yang mengerikan sedang terjadi—dan tidak ada yang mendengarkannya.
Di ruang-ruang besar Istana Versailles, pemimpin negara-negara pemenang perang sedang merancang perjanjian yang akan mengakhiri Perang Dunia I. Mereka mengatakan ini adalah perjanjian untuk "mengakhiri semua perang." Untuk menciptakan perdamaian abadi.
Tapi Keynes melihat yang sebenarnya: Mereka sedang menanam benih untuk perang berikutnya.
Enam bulan kemudian, Keynes menerbitkan "The Economic Consequences of the Peace"—buku yang ditulis dengan kemarahan yang terukur, argumen yang presisi seperti bedah, dan prediksi yang akan terbukti menakutkan akurat.
Buku ini menghancurkan reputasi para pemimpin dunia. Memicu kontroversi internasional. Dan—meskipun diabaikan oleh para politisi—membuktikan 20 tahun kemudian bahwa Keynes benar.
Ketika Adolf Hitler naik ke kekuasaan pada 1933, dunia akhirnya mengerti: Versailles tidak menciptakan perdamaian. Versailles menciptakan Hitler.
Mari kita pahami mengapa.