Ukuran teks
18

Eksperimen yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda duduk di ruangan sederhana. Di meja di depan Anda ada tiga benda: sebuah lilin, sekotak paku payung, dan sekotak korek api. 

Tugas Anda sangat sederhana: tempelkan lilin ke dinding sehingga lilin menyala tanpa meneteskan lilin ke meja. 

Silakan pikirkan sejenak. Bagaimana Anda akan menyelesaikannya? 

Kebanyakan orang mencoba: 

● Menempelkan lilin langsung ke dinding dengan paku (tidak berhasil, lilin patah)

● Melelehkan lilin dan menggunakannya seperti lem (tidak berhasil, lilin jatuh)

● Mencari cara kreatif lainnya yang tetap tidak berhasil 

Solusi sebenarnya membutuhkan sedikit pemikiran "di luar kotak"—secara harfiah: Kosongkan paku dari kotaknya. Paku kotak itu ke dinding. Letakkan lilin di dalam kotak. Selesai. 

Ini adalah "Candle Problem"—eksperimen klasik yang diciptakan psikolog Karl Duncker pada tahun 1930-an untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif. 

Tapi cerita yang sesungguhnya dimulai tahun 1960-an, ketika Sam Glucksberg dari Princeton melakukan eksperimen yang sama dengan twist yang mengejutkan. 

Dia membagi peserta menjadi dua kelompok: 

● Kelompok 1: "Kami hanya ingin melihat berapa lama Anda menyelesaikan ini untuk mencatat rata-rata waktu." 

● Kelompok 2: "Jika Anda menyelesaikan ini dalam 25% waktu tercepat, Anda akan mendapat $5. Jika Anda yang tercepat, Anda mendapat $20." 

Pertanyaan: Kelompok mana yang lebih cepat? 

Logika bisnis tradisional mengatakan: Kelompok 2. Beri reward, dapatkan hasil lebih baik, kan?

SALAH. 

Kelompok yang diberi insentif uang menyelesaikan masalah tiga setengah menit LEBIH LAMBAT daripada kelompok tanpa reward. 

Uang—sesuatu yang kita yakini sebagai motivator universal—justru memperlambat mereka. Kenapa? 

Jawaban atas pertanyaan ini akan mengubah cara Anda memahami motivasi selamanya.

 

 

1 dari 14