Telepon yang Mengubah Segalanya
November 1982. Seorang pemuda berusia 21 tahun sedang duduk di apartemen kecilnya di New York ketika telepon berdering.
Suara di ujung sana adalah bibinya dari Kenya, memberitahu bahwa ayahnya—seorang pria yang hampir tidak ia kenal, yang meninggalkannya saat ia berusia dua tahun—meninggal dalam kecelakaan mobil.
Barack Obama muda tidak menangis. Tidak shock. Dia merasakan... kekosongan.
Bagaimana kamu berduka untuk orang asing? Bagaimana kamu merindukan ayah yang tidak pernah benar-benar ada?
Selama 21 tahun, Obama hidup dengan bayangan seorang pria yang ada hanya dalam cerita. Ayahnya—Barack Obama Sr.—digambarkan ibunya sebagai jenius brilian dari Kenya. Dalam foto hitam-putih, pria dengan kacamata tebal itu terlihat percaya diri, intelektual, penuh janji.
Tapi itu hanya foto. Hanya cerita.
Kenyataannya jauh lebih rumit. Ayahnya adalah pecandu alkohol yang gagal. Pria dengan mimpi besar yang hancur oleh sistem, ego, dan pilihannya sendiri. Pria yang meninggalkan keluarga di dua benua.
Dan sekarang dia mati. Dan Obama ditinggalkan dengan pertanyaan yang telah menghantuinya seumur hidup:
Siapa aku sebenarnya?
Anak dari ayah Kenya hitam dan ibu Kansas putih. Terlalu hitam untuk dunia putih. Terlalu putih untuk dunia hitam. Tidak sepenuhnya Amerika. Tidak sepenuhnya Afrika. Tidak sepenuhnya apa-apa.
"Dreams From My Father" adalah perjalanan Obama mencari jawaban atas pertanyaan itu. Dari jalanan Hawaii ke kampus New York, dari komunitas miskin Chicago ke desa-desa terpencil di Kenya.
Ini bukan biografi politikus. Ini ditulis tahun 1995, jauh sebelum Obama menjadi senator, apalagi presiden.
Ini adalah memoar seorang pemuda yang mencoba memahami siapa dirinya dalam dunia yang terus-menerus menuntutnya untuk memilih satu identitas—padahal dia adalah perpaduan dari banyak.
Dan dalam pencarian identitasnya, kita menemukan cerminan pertanyaan universal yang kita semua hadapi:
Bagaimana kita menemukan diri kita sendiri ketika identitas kita tersebar di banyak tempat, banyak budaya, banyak harapan?
Mari kita mulai perjalanan ini.