Lockdown dan Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari
Maret 2020. Dunia berhenti.
Bayangkan Anda terkunci di rumah—sendirian—tanpa tahu kapan ini akan berakhir. Tidak ada tempat untuk lari. Tidak ada distraksi. Hanya Anda dan keheningan yang menakutkan.
Dan dalam keheningan itu, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini Anda hindari mulai berbisik:
Apakah saya bahagia?
Mengapa saya membuat pilihan-pilihan itu?
Kemana perginya mimpi-mimpi saya?
Apakah saya mencintai dengan jujur—atau hanya mencintai ide tentang cinta?
Chimamanda Ngozi Adichie, penulis masterpiece "Americanah" dan "Half of a Yellow Sun," kembali setelah 12 tahun dengan novel yang lahir dari pandemi—"Dream Count."
Bukan tentang virus. Bukan tentang lockdown. Tapi tentang apa yang terjadi ketika dunia memaksa kita berhenti dan melihat ke dalam.
"Dream Count" adalah kisah empat wanita—Nigeria, Guinea, Amerika, Eropa—yang kehidupannya saling bersinggungan seperti tapestri di empat dinding ruangan. Masing-masing kuat. Masing-masing mandiri. Masing-masing sukses dengan caranya sendiri.
Tapi di balik kesuksesan itu, ada pertanyaan yang sama: Berapa banyak dari diri kita yang harus kita pendam untuk mendapatkan apa yang kita inginkan?
Mari kita masuki kehidupan mereka—satu per satu.