Ukuran teks
18

Pria yang Membaca Terlalu Banyak

Bayangkan Anda punya tetangga—pria tua, sekitar 50-an, kurus kering, tidak pernah menikah, menghabiskan seluruh hidupnya di desa kecil di Spanyol. 

Dia bukan orang kaya. Bukan orang penting. Hanya pria biasa dengan kehidupan biasa yang membosankan. 

Tapi dia punya satu hobi: membaca novel kesatria. 

Amadis de Gaula. Palmerín de Inglaterra. Tirant lo Blanch. Cerita tentang ksatria gagah berani yang menyelamatkan putri, mengalahkan naga, memenangkan kehormatan. 

Dia membaca satu buku. Lalu sepuluh. Lalu seratus. Dia menghabiskan seluruh hartanya untuk membeli lebih banyak buku. Dia tidak tidur—hanya membaca. Dia lupa makan—hanya membaca. 

Dan suatu hari, sesuatu dalam otaknya... patah. 

Dia tidak lagi bisa membedakan fiksi dari realitas. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang dia baca itu nyata—dan jika itu nyata, maka dia juga bisa menjadi ksatria. 

Jadi pada usia 50 tahun, Alonso Quixano—pria tua dari desa La Mancha—memutuskan untuk menjadi Don Quixote de La Mancha, ksatria pengembara. 

Dia mengambil baju besi berkarat kakeknya. Dia membuat helm dari karton. Dia menemukan kuda tua kurus yang hampir mati dan menamakannya "Rocinante" (kuda perang yang hebat—menurut dia). 

Dia memilih seorang gadis desa yang bahkan tidak mengenalnya dan menyatakan dia sebagai "Dulcinea del Toboso"—wanita paling cantik di dunia yang untuknya dia akan melakukan perbuatan berani. 

Dan dia berangkat untuk memperbaiki dunia.

Ini terdengar seperti komedi, kan? Pria tua gila yang mengira dia ksatria. 

Tapi inilah yang luar biasa: Miguel de Cervantes menulis buku ini lebih dari 400 tahun yang lalu, dan sampai hari ini, kita masih berbicara tentang Don Quixote. 

Mengapa? Karena di balik kegilaan yang konyol, ada pertanyaan yang sangat mendalam:

Apakah lebih baik hidup dalam mimpi yang indah, atau realitas yang brutal?

Mari kita ikuti perjalanan pria gila yang paling terkenal dalam literatur dunia.

 


1 dari 10