Ukuran teks
18

Puisi di Atas Puing-Puing

Bayangkan Anda hidup di dunia yang sedang runtuh. 

Istana-istana megah terbakar. Jalanan dipenuhi mayat. Kereta penuh dengan pengungsi yang kelaparan. Tetangga Anda ditangkap tengah malam dan tidak pernah kembali. Uang Anda tidak bernilai. Makanan langka. Kepercayaan lebih langka lagi. 

Di tengah kekacauan ini, Anda—seorang dokter dan penyair—mencoba memahami satu pertanyaan sederhana namun impossible: 

Bagaimana seseorang bisa mencintai ketika dunia sedang membenci? 

Inilah dunia Yuri Zhivago. Seorang dokter Rusia yang hidup melalui salah satu periode paling brutal dalam sejarah manusia: Revolusi Rusia dan Perang Saudara yang mengikutinya. 

Di tengah ideologi yang membunuh jutaan orang, dia mencoba mempertahankan sesuatu yang sederhana: kemanusiaan. Kemampuan untuk merasakan. Untuk mencintai. Untuk menulis puisi. 

Boris Pasternak menulis "Doctor Zhivago" di Uni Soviet Stalin—di negara di mana menulis dengan jujur tentang Revolusi bisa membuat Anda ditembak. Dia menyembunyikan manuskrip selama bertahun-tahun. Ketika akhirnya diterbitkan di luar negeri pada 1957, pemerintah Soviet melarangnya. Pasternak dianugerahi Nobel Prize pada 1958—dan dipaksa menolaknya oleh KGB. 

Mengapa rezim yang begitu kuat takut pada sebuah novel tentang seorang dokter dan puisi-puisinya? 

Karena buku ini mengungkap kebenaran yang tidak bisa diakui oleh ideologi: manusia lebih besar dari sejarah. Cinta lebih kuat dari politik. Dan puisi bertahan lebih lama dari revolusi. 

Mari kita masuki dunia yang hancur—dan hati yang tetap utuh—dari Doctor Zhivago.

 


1 dari 9