Ketika Kamu Datang Mencari Perang
Bayangkan kamu berusia 27 tahun. Kamu seorang wartawan majalah terkenal. Hidupmu nyaman di New York—apartemen bagus, gaji stabil, makan malam di restoran trendi.
Lalu kamu mengangkat telepon dan mengatakan: "Kirim saya ke Vietnam."
Mengapa? Bukan karena patriotisme. Bukan karena kamu percaya pada perang. Bahkan bukan karena uang.
Karena kamu ingin tahu seperti apa rasanya perang.
Karena ada bagian gelap dalam dirimu—bagian yang diakui atau tidak oleh semua pria muda—yang penasaran dengan kekerasan. Yang ingin tahu apakah kamu akan lari atau berdiri ketika peluru bersiul melewati kepalamu. Yang ingin merasakan intensitas yang tidak akan pernah kamu temukan di bar Brooklyn atau kantor majalah.
Inilah Michael Herr pada tahun 1967. Wartawan Esquire Magazine yang dikirim ke Vietnam tanpa deadline, tanpa tugas spesifik, hanya instruksi: "Tulislah tentang apapun yang kamu lihat."
Apa yang dia lihat akan mengubahnya selamanya.
Selama dua tahun, Herr hidup di antara tentara di garis depan. Dia tidur di bunker yang diserang mortir. Dia naik helikopter yang ditembaki. Dia melihat teman-temannya mati. Dia merasakan ketakutan yang membuat kamu muntah dan kegembiraan yang membuat kamu merasa hidup untuk pertama kalinya.
Dan ketika dia pulang, dia menghabiskan hampir satu dekade mencoba menulis tentang apa yang dia lihat—karena bagaimana kamu menjelaskan neraka kepada orang yang tidak pernah terbakar?
"Dispatches" adalah hasilnya. Bukan laporan jurnalistik tradisional. Bukan narasi heroik tentang keberanian Amerika. Ini adalah dokumen kejujuran brutal tentang apa yang perang benar-benar lakukan pada manusia—pada tubuh, pada pikiran, pada jiwa.
Ini adalah buku yang membuat Francis Ford Coppola mengatakan: "Ini adalah Vietnam. Ini bagaimana rasanya."
Dan Stanley Kubrick meminta Herr menulis narasi untuk "Full Metal Jacket."
Mari kita masuk ke neraka bersama Herr. Tapi saya peringatkan: ini bukan perjalanan yang nyaman.