Ketika Anak-Anak Mengendalikan Dunia
Bayangkan ini: Tahun 2007. Seorang gadis 14 tahun bernama Miley Cyrus adalah orang paling terkenal di Amerika.
Setiap episode Hannah Montana ditonton 5,4 juta orang. Merchandisenya menghasilkan $1 miliar per tahun. Tiket konsernya sold out dalam hitungan menit. Anak-anak di seluruh dunia mengenakan wig pirang dan menyanyikan "Best of Both Worlds."
Di waktu yang sama, Zac Efron dan Vanessa Hudgens dari High School Musical ada di cover majalah remaja. Jonas Brothers mengisi stadion. Selena Gomez menjadi bintang Wizards of Waverly Place. Demi Lovato membintangi Camp Rock.
Disney Channel—saluran yang dulunya diabaikan, disebut "anak tiri" dalam keluarga besar Disney—tiba-tiba menjadi mesin uang paling kuat di televisi kabel. Lebih populer dari ESPN. Lebih menguntungkan dari Disney Cruise Lines.
Tapi ada sisi lain dari dongeng ini.
Di balik layar, anak-anak berusia 12-17 tahun bekerja 14 jam sehari. Mereka diawasi setiap detik. Penampilan mereka dikritik. Berat badan mereka dipantau. Kehidupan pribadi mereka dikontrol. Setiap langkah salah bisa mengakhiri karir.
Mereka tidak boleh berkencan di publik tanpa izin. Tidak boleh mengubah gaya rambut. Tidak boleh berkomentar tentang politik atau isu kontroversial. Bahkan cara mereka tersenyum di karpet merah dilatih.
Dan ketika mereka akhirnya dewasa dan ingin keluar dari bayang-bayang Disney? Beberapa berhasil. Banyak yang hancur.
"Disney High" adalah buku investigatif pertama yang mengungkap cerita lengkap: bagaimana Disney Channel naik dari ketiadaan menjadi kerajaan remaja terbesar di dunia—dan mengapa semuanya akhirnya runtuh.
Ini bukan hanya tentang nostalgia atau gosip selebriti. Ini adalah cerita tentang anak-anak yang mengorbankan masa kecil mereka untuk menghibur kita. Tentang sistem yang mengubah manusia menjadi produk. Tentang harga dari ketenaran yang datang terlalu cepat.
Mari kita mulai dari awal.