Ukuran teks
18

Budak yang Mengajarkan Kaisar

Roma, tahun 90 Masehi. 

Di sebuah ruangan sederhana, seorang pria pincang duduk di hadapan sekelompok pemuda dari keluarga-keluarga terkaya Roma. Mereka datang dari istana. Dia datang dari perbudakan. 

Mereka memakai toga mewah. Dia memakai jubah sederhana. 

Mereka memiliki kekayaan, status, dan masa depan yang dijamin. Dia tidak memiliki apa-apa—bahkan namanya sendiri. "Epictetus" hanya berarti "yang didapat" atau "yang diperoleh"—nama yang diberikan untuk budak. 

Tapi ada sesuatu yang paradoks: Para pemuda kaya ini datang untuk belajar tentang kebebasan dari seorang pria yang pernah diperbudak. 

Dan lebih paradoks lagi: ajaran yang dia berikan akan bertahan 2.000 tahun, mempengaruhi kaisar, jenderal, dan jutaan orang—sementara nama-nama para pemuda kaya itu dilupakan oleh sejarah. 

Siapa Epictetus? 

Lahir sekitar tahun 50 Masehi sebagai budak di Hierapolis (Turki modern). Diperbudak oleh Epaphroditus, sekretaris Kaisar Nero yang sadis. Suatu hari, tuannya menyiksa kakinya—ada yang bilang dengan sengaja, ada yang bilang sebagai hukuman. Kaki Epictetus patah dan tidak pernah sembuh dengan baik. 

Tapi justru dalam penderitaan fisik dan perbudakan itulah Epictetus menemukan kebebasan sejati—kebebasan yang tidak bisa diambil oleh siapa pun, bahkan kaisar. 

Ketika dia akhirnya dibebaskan, dia membuka sekolah filosofi. Muridnya, Arrian, mencatat ajarannya dalam buku "Discourses" (Percakapan) dan "Enchiridion" (Buku Pegangan).

Ini bukan filosofi untuk menara gading. Ini adalah filosofi untuk hidup—untuk digunakan setiap hari, di setiap situasi, oleh siapa pun. 

Dan pelajaran pertamanya mengubah segalanya.

 


1 dari 13