Ukuran teks
18

Kata yang Jatuh ke Lantai

Bayangkan Anda adalah anak kecil berusia enam tahun, duduk di bawah meja besar di sebuah gudang tua yang penuh dengan lembaran kertas. Setiap kertas berisi satu kata—hanya satu kata—dengan definisi dan kutipan yang menjelaskan bagaimana kata itu digunakan. 

Di atas meja, para pria berdebat. Mereka adalah kumpulan ilmuwan bahasa terpilih, sedang melakukan pekerjaan paling ambisius dalam sejarah: membuat kamus bahasa Inggris yang paling komprehensif yang pernah ada—Oxford English Dictionary. 

"Kata ini terlalu vulgar," kata satu pria, membuang selembar kertas. 

"Kata ini tidak cukup penting," kata yang lain, mengabaikan kertas lain yang terjatuh.

"Tidak ada cukup bukti tertulis," tambah yang ketiga. 

Dari bawah meja, Anda melihat kertas-kertas itu jatuh seperti salju. Setiap kertas adalah kata. Setiap kata adalah suara seseorang. Setiap suara yang diabaikan adalah kehidupan yang tidak dianggap penting. 

Lalu selembar kertas jatuh tepat di depan Anda. Kata itu: bondmaid—budak perempuan. 

Anda mengambilnya. Anda menyembunyikannya. Dan tanpa Anda sadari, Anda baru saja memulai sebuah revolusi kecil yang akan mengubah cara dunia melihat kata-kata, perempuan, dan siapa yang berhak untuk didengar. 

Ini adalah cerita Esme Nicoll. 

Pip Williams menulis "The Dictionary of Lost Words" bukan hanya sebagai novel sejarah tentang pembuatan kamus. Dia menulis tentang kekuatan kata-kata untuk mendefinisikan realitas—dan bagaimana selama berabad-abad, realitas perempuan tidak pernah benar-benar didefinisikan, karena para pria yang menulis kamus tidak pernah berpikir pengalaman perempuan cukup penting untuk dimasukkan. 

Mari kita masuk ke Scriptorium—gudang besi di halaman belakang Oxford di mana kamus terbesar dunia dikompilasi, dan di mana seorang gadis kecil mulai menyadari: tidak semua kata diciptakan setara.

 


1 dari 11