Ukuran teks
18

Cacing, Pizza, dan Miliaran Dolar

Usia 9 tahun. Seorang anak bernama Tony Hsieh punya ide bisnis pertamanya: beternak cacing tanah. 

Logikanya sederhana—orang butuh cacing untuk memancing. Ia akan menjualnya. Profit. 

Bisnis cacing gagal. Tapi bukan karena kurangnya ambisi Tony—ia hanya tidak tahu bahwa cacing tanah butuh waktu berbulan-bulan untuk berkembang biak. 

Beberapa tahun kemudian, di masa SMP, Tony mencoba lagi: bisnis mail-order button (lencana). Lalu di Harvard, ia menjalankan bisnis pizza. Ia bahkan tidak perlu oven—cukup beli pizza dari luar, potong, jual per slice ke mahasiswa yang lapar. Margin tipis, tapi ia belajar sesuatu yang jauh lebih berharga dari uang: cara berbisnis adalah dengan memecahkan masalah nyata. 

Lompat ke tahun 1996. Tony, baru lulus dari Harvard dengan gelar ilmu komputer, bekerja di Oracle. Gajinya bagus. Masa depannya cerah. Tapi setelah 5 bulan, Tony keluar. 

Mengapa? Karena ia bosan. 

Ia tidak merasakan passion. Tidak ada excitement. Hanya rutinitas membosankan di kubi yang terasa mati. 

Jadi ia dan temannya mendirikan LinkExchange—jaringan iklan internet di masa awal web. Dalam 2 tahun, perusahaan tumbuh pesat. Microsoft datang dengan tawaran: 265 juta dolar. 

Usia 24 tahun. Tony menjual LinkExchange. Ia kaya raya. 

Tapi ada masalah besar yang tidak ia sadari sampai terlambat: ia tidak lagi senang pergi ke kantor. 

Ketika perusahaan kecil, semua orang adalah teman. Mereka nongkrong bersama setelah kerja. Mereka peduli satu sama lain. Ada chemistry. Ada magic.

Tapi saat LinkExchange tumbuh, Tony melakukan kesalahan fatal: ia merekrut orang-orang pintar dengan resume bagus, tapi tidak memperhatikan apakah mereka cocok dengan budaya perusahaan. 

Hasilnya? Budaya hancur. Lingkungan kerja berubah toxic. Setiap pagi, Tony terbangun dengan perasaan berat untuk pergi ke kantor—tempat yang dulu ia cintai. 

Ketika Microsoft akhirnya membeli LinkExchange, Tony merasa lega. Bukan karena uang 265 juta dolar itu. Tapi karena ia bisa keluar dari bisnis yang sudah tidak ia cintai lagi. 

Pelajaran pertama Tony yang paling mahal: Tanpa budaya perusahaan yang kuat, tidak ada uang di dunia yang bisa membuatmu bahagia.

 


1 dari 13