Pertanyaan Tertua Umat Manusia
Tahun 350 Sebelum Masehi. Athena, Yunani.
Seorang pria berusia 50-an tahun berjalan perlahan di taman Lyceum—sekolah yang dia dirikan. Dia berhenti, menatap sebuah pohon zaitun. Lalu dia bertanya pada murid-muridnya:
"Apa perbedaan antara pohon ini dengan batu di sebelahnya?"
Murid-murid kebingungan. Jawaban yang jelas: pohon hidup, batu tidak.
"Baik," kata sang guru. "Tapi apa artinya 'hidup'? Apa yang membuat sesuatu hidup? Apa yang membedakan makhluk hidup dari benda mati?"
Lalu dia bertanya lagi:
"Dan apa perbedaan antara pohon ini dengan anjing yang berlari di sana?"
Pohon hidup, tapi tidak bergerak bebas. Anjing hidup dan bergerak. Apakah ada sesuatu dalam anjing yang tidak ada dalam pohon?
"Dan apa perbedaan antara anjing itu dengan kamu—manusia?"
Keduanya hidup. Keduanya bergerak. Keduanya makan dan berkembang biak. Tapi manusia bisa berpikir, bisa bertanya pertanyaan seperti ini, bisa memahami matematika dan filsafat.
Mengapa?
Sang guru adalah Aristotle—mungkin filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Barat. Dan pertanyaan-pertanyaan ini adalah awal dari De Anima (Tentang Jiwa)—sebuah penyelidikan radikal tentang apa yang membuat sesuatu hidup dan apa yang membedakan berbagai bentuk kehidupan.
Ini bukan buku tentang kehidupan setelah mati. Bukan tentang reinkarnasi atau surga dan neraka. Ini adalah upaya ilmiah pertama untuk memahami apa itu jiwa—prinsip kehidupan itu sendiri.
Dan 2.400 tahun kemudian, pertanyaan-pertanyaan Aristotle masih bergema. Dalam era kecerdasan buatan, neurosains, dan debat tentang kesadaran—kita masih bertanya:
Apa yang membuat kita hidup? Apa yang membuat kita sadar? Apa yang membuat kita manusia?
Mari kita lihat apa yang Aristotle temukan.