Pertarungan yang Salah Kita Pahami
Bayangkan Anda berdiri di Lembah Elah, sekitar 3.000 tahun yang lalu. Di satu sisi, pasukan Filistin berkemah. Di sisi lain, pasukan Israel. Dua tentara yang saling berhadapan, tapi tidak ada yang berani menyeberangi lembah untuk menyerang.
Lalu keluarlah seorang raksasa bernama Goliat. Tingginya lebih dari dua meter. Mengenakan armor perunggu yang beratnya 57 kilogram. Membawa pedang raksasa. Suaranya menggelegar di seluruh lembah: "Kirimkan seseorang untuk bertarung melawan saya! Jika dia menang, kami akan menjadi budakmu. Jika aku menang, kalian menjadi budak kami!"
Tentara Israel gemetar ketakutan. Tidak ada yang berani melawan raksasa itu. Selama 40 hari, Goliat terus menantang, dan selama 40 hari, tidak ada yang menjawab.
Sampai seorang gembala muda bernama Daud mendengar tantangan itu.
Daud bukan tentara. Dia bahkan belum pernah berperang. Dia hanya anak remaja yang mengurus domba ayahnya. Tapi ketika dia menawarkan diri untuk melawan Goliat, Raja Saul—meskipun ragu—akhirnya mengizinkan.
Saul memberikan armor dan pedangnya kepada Daud. Tapi Daud melepasnya. "Aku tidak bisa berjalan dengan ini," katanya. Sebaliknya, ia mengambil tongkat gembalanya, memilih lima batu halus dari sungai, dan membawa ketapelnya.
Goliat melihat Daud mendekat dan menertawakan. "Apakah aku anjing, sehingga kau datang kepadaku dengan tongkat?" ejeknya. "Kemari, dan aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung dan binatang liar!"
Daud tidak bergeming. Ia tidak berjalan mendekati Goliat untuk pertarungan jarak dekat. Sebaliknya, ia berhenti pada jarak aman, mengambil batu dari kantongnya, memasukkannya ke ketapel, dan melepaskannya dengan presisi sempurna.
Batu itu melesat dengan kecepatan luar biasa—seperti peluru—dan menghantam dahi Goliat yang terbuka, tepat di bawah helmnya. Raksasa itu jatuh tersungkur. Pertarungan berakhir sebelum dimulai.
Kita semua tahu cerita ini. Kita menganggapnya sebagai kisah klasik tentang keajaiban—bagaimana yang lemah, dengan sedikit keberuntungan, kadang bisa mengalahkan yang kuat.
Tapi Malcolm Gladwell, dalam bukunya yang brilian ini, mengatakan kita salah memahami cerita ini.
Daud bukan yang lemah. Goliat bukan yang kuat. Sebenarnya, Daud lah yang memiliki keunggulan sepanjang waktu.
Dan jika kita terus salah memahami pertarungan antara David dan Goliat—baik dalam cerita Alkitab maupun dalam kehidupan sehari-hari—kita akan terus terkejut ketika underdog menang. Padahal kemenangan mereka seharusnya bisa diprediksi.
Ini adalah buku tentang bagaimana kelemahan sebenarnya adalah kekuatan. Bagaimana kesulitan bisa menjadi berkah. Dan bagaimana raksasa tidak sekuat yang mereka terlihat.