Ukuran teks
18

Arena Kehidupan

Bayangkan Anda berdiri di tepi arena yang ramai. Di dalam arena itu, orang-orang sedang berjuang, jatuh, bangkit, mencoba, gagal, mencoba lagi. Mereka berdarah, berkeringat, penuh debu—tetapi mereka hadir. Mereka benar-benar hidup. 

Di luar arena, di tribun yang aman, ada orang-orang yang menunjuk, mengkritik, menertawakan mereka yang berada di dalam arena. "Seharusnya dia melakukan ini!" "Dia payah!" "Aku bisa lebih baik dari itu!" 

Pertanyaannya sederhana namun menusuk: Di mana Anda berdiri? 

Apakah Anda di dalam arena—rentan, terlihat, tidak sempurna tetapi berani? Atau Anda di tribun—aman, tersembunyi, tidak tersentuh tetapi juga tidak benar-benar hidup? 

Theodore Roosevelt, dalam pidatonya yang terkenal "The Man in the Arena" tahun 1910, mengatakan ini dengan indah: 

"Yang penting bukanlah kritikus. Bukan orang yang menunjuk bagaimana orang kuat tersandung. Yang penting adalah orang yang benar-benar turun ke arena, yang wajahnya ternoda oleh debu dan keringat dan darah, yang berjuang dengan gagah berani, yang berbuat kesalahan dan gagal berulang kali, karena tidak ada usaha tanpa kesalahan dan kekurangan. Yang penting adalah orang yang benar-benar berusaha, yang mengenal antusiasme besar dan pengabdian besar, yang menghabiskan dirinya untuk tujuan yang layak. Dan yang paling buruk, jika dia gagal, setidaknya dia gagal saat berani besar." 

Inilah inti dari Daring Greatly—keberanian untuk turun ke arena, untuk terlihat, untuk menjadi rentan. 

Dan Dr. Brené Brown, setelah 12 tahun meneliti kerentanan, rasa malu, keberanian, dan keterkaitan dengan lebih dari 1.000 partisipan, menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: 

Kerentanan bukan kelemahan. Kerentanan adalah keberanian paling sejati.

 


1 dari 11