Ukuran teks
18

Jalan yang Tidak Bisa Diberi Nama

Ada sebuah cerita tentang Lao Tzu—guru bijaksana yang hidup di Tiongkok kuno sekitar 2.500 tahun lalu. 

Suatu hari, pada usia 80 tahun lebih, dia memutuskan untuk meninggalkan peradaban. Dia sudah lelah dengan politik, dengan ambisi manusia, dengan keserakahan yang dia lihat di sekitarnya. Dia ingin menghilang ke pegunungan, hidup dalam keheningan, dan meninggalkan dunia yang tidak lagi masuk akal baginya. 

Dia menunggang kerbau tuanya menuju gerbang barat—perbatasan antara peradaban dan alam liar. 

Di gerbang itu, seorang penjaga bernama Yin Xi mengenalinya. Penjaga ini tahu Lao Tzu adalah salah satu manusia paling bijaksana yang pernah hidup. 

"Guru," kata Yin Xi, "Anda tidak boleh pergi begitu saja. Jika Anda meninggalkan kami, kebijaksanaan Anda akan hilang selamanya. Tolong, tuliskan apa yang Anda ketahui sebelum Anda pergi." 

Lao Tzu berhenti. Dia duduk. Dan dalam tiga hari, dia menulis 81 bab pendek—5.000 karakter dalam bahasa Tiongkok kuno. 

Kemudian dia menyerahkan manuscript itu kepada penjaga, naik kerbaunya, dan menghilang ke pegunungan. Tidak ada yang pernah melihatnya lagi. 

Manuscript itu adalah Dao De Jing—"Kitab tentang Jalan dan Kebajikan." 

Dan 2.500 tahun kemudian, kata-kata itu masih berbicara kepada kita dengan kekuatan yang sama. 

Mengapa? Karena Lao Tzu tidak menulis tentang masalah zamannya. Dia menulis tentang prinsip-prinsip universal yang berlaku di setiap zaman:

Bagaimana hidup dalam harmoni dengan alam semesta. Bagaimana memimpin tanpa memaksa. Bagaimana menemukan kekuatan dalam kelembutan. Bagaimana mencapai lebih banyak dengan melakukan lebih sedikit. 

Ini bukan self-help biasa. Ini bukan 10 langkah untuk sukses. Ini adalah undangan untuk melihat dunia dengan cara yang sepenuhnya berbeda. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11