Ukuran teks
18

Hari Pemakaman yang Juga Hari Kelahiran

Bayangkan ini: Hari pemakaman seseorang yang Anda cintai. Langit Lagos mendung. Keluarga menangis. Tubuh yang Anda kenal—penuh hidup, penuh tawa, penuh hasrat—kini dingin di dalam peti. 

Dan di hari yang sama—di momen yang sama keluarga menurunkan peti ke tanah—Anda melahirkan. 

Bayi prematur. Lima bulan lebih cepat dari seharusnya. Terlalu kecil, terlalu rapuh, seharusnya tidak bertahan. 

Tapi dia bertahan. 

Dan ketika perawat membawa bayi itu kepada Anda—ketika Anda melihat wajahnya untuk pertama kali—Anda tahu: Ini bukan hanya bayi baru. Ini adalah seseorang yang kembali. 

Mata yang sama. Bentuk wajah yang sama. Bahkan ekspresi yang sama—seperti sedang melihat sesuatu yang jauh, sesuatu yang hanya dia tahu. 

"Dia kembali," bisik bibi Anda dengan air mata. "Monife kembali." 

Dan sejak momen itu, bayi ini—anak Anda, darah daging Anda—bukan lagi hanya milik Anda. Dia adalah reinkarnasi. Dia adalah kesempatan kedua. Dia adalah kutukan yang terus berulang. 

Selamat datang di dunia keluarga Falodun—di mana setiap perempuan yang lahir membawa beban generasi, di mana cinta selalu berakhir dengan patah hati, dan di mana pertanyaan yang paling menakutkan bukan "Apakah kutukan itu nyata?" tapi "Apakah kita yang membuatnya nyata?" 

Oyinkan Braithwaite—penulis bestseller "My Sister, the Serial Killer"—menulis Cursed Daughters sebagai saga tiga generasi tentang perempuan Nigeria yang percaya mereka terkutuk dalam hal cinta. Tentang Monife yang mati karena patah hati. Tentang Ebun yang melahirkan di hari pemakaman sepupunya. Dan tentang Eniiyi—gadis yang tumbuh dengan bayangan perempuan yang mati sebelum dia lahir.

Ini tentang apakah kita ditakdirkan mengulangi kesalahan orang tua kita. Tentang perbedaan antara kutukan dan trauma yang diturunkan. Dan tentang apa artinya berani mencintai ketika semua sejarah keluargamu mengatakan: Jangan.

 


1 dari 10